Asal Usul Desa Kutogirang

URL Cerital Digital: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kutogirang,_Ngoro,_Mojokerto

Di masa ketika Kerajaan Majapahit masih berjaya, hamparan hutan lebat membentang luas di wilayah yang kini dikenal sebagai Ngoro, Mojokerto. Pepohonan tinggi menjulang, akar akar besar menjalar di tanah, dan suara hewan hutan bergema dari kejauhan. Namun ketenangan hutan itu perlahan berubah. Dentuman kapak terdengar teratur, memecah keheningan pagi. Sekelompok orang sedang menebangi pepohonan dengan penuh tenaga. Mereka telah bekerja selama beberapa hari dan membuka lahan hingga terbentuklah tanah kosong yang luas.

Orang orang itu bukan pencari kayu liar. Mereka adalah rombongan yang datang dari Kerajaan Majapahit. Mereka dipimpin oleh seorang pejabat setia bernama Tumenggung Wirosena. Ia telah mengabdi selama bertahun tahun kepada Prabu Brawijaya dan banyak memberikan jasa. Atas pengabdiannya itu, sang raja menghadiahinya sebidang hutan untuk ia kelola. Namun hutan itu tetap berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit sehingga Tumenggung Wirosena berkewajiban datang ke istana setiap hari sebagai bentuk penghormatan.

Dengan semangat besar, para pengikutnya membuka hutan sesuai titah sang raja. Mereka menebang kayu untuk membangun rumah rumah sederhana. Sebagian lain mencetak bata dari tanah liat untuk dijadikan pondasi bangunan. Tidak lama kemudian berdirilah permukiman kecil yang terbentang rapi. Tumenggung Wirosena memandang hasil kerja itu dengan bangga.

Namun ia tidak berhenti sampai di situ. Ia ingin membangun tempat tinggal yang menyerupai istana Majapahit meski ukurannya lebih kecil. Ia bermaksud menjadikan tanah itu sebagai cikal bakal sebuah kadipaten. Maka didirikanlah sebuah istana megah yang bentuknya mirip sekali dengan istana pusat kerajaan. Dari gerbangnya hingga ruang dalamnya, semua dibuat dengan penuh ketelitian.

Saat istana selesai, Tumenggung Wirosena masih merasa ada yang kurang. Ia teringat pada sebuah kolam besar di Majapahit yang terkenal dengan nama Kolam Segaran. Kolam itu adalah tempat latihan armada laut Majapahit. Bentuknya luas seperti tiruan lautan. Tumenggung Wirosena ingin menghadirkan kolam serupa di dekat istananya agar permukiman itu benar benar meniru pusat kerajaan dan menarik perhatian banyak orang.

Ia memerintahkan pengikutnya untuk membangun kolam segaran buatan. Dengan semangat yang berlipat, mereka mengangkat tanah, menggali lahan, dan membentuk kolam besar. Tanah galian kemudian dialirkan ke tepi untuk membuat dinding kokoh. Ketika kolam selesai, air dari sumber alami dialirkan masuk melalui saluran panjang yang dibuat secara bergotong royong.Air itu jernih dan mengalir tenang. Dari sinilah sistem irigasi mulai tumbuh. Air yang mengisi kolam tidak hanya menjadi simbol kemegahan seperti milik Majapahit, tetapi juga menjadi sumber pengairan bagi permukiman baru itu. Tanah di sekelilingnya perlahan menjadi subur. Para penduduk mulai bercocok tanam dengan memanfaatkan sistem pengairan yang teratur. Air mengalir melalui parit parit kecil yang menghubungkan kolam dengan lahan pertanian. Kehidupan semakin berkembang.

Seiring waktu, rombongan pendatang dari berbagai daerah mulai berdatangan. Mereka melihat istana kecil yang menawan, kolam besar yang indah, serta persawahan yang subur berkat aliran air yang teratur. Wilayah itu semakin ramai dan makmur. Semua orang yang tinggal di sana merasakan kegembiraan setiap hari. Mereka merasa seolah hidup dekat dengan kemegahan ibu kota Majapahit.

Melihat wajah wajah penduduk yang selalu tersenyum, Tumenggung Wirosena tersentuh oleh rasa haru. Ia ingin memberikan nama yang mencerminkan suasana hati masyarakatnya. Maka dipilihlah nama Kutogirang. Kata itu berasal dari kata kuto yang berarti kota dan girang yang berarti bahagia. Sebuah nama yang melambangkan kegembiraan dan kemakmuran yang lahir dari tanah yang telah mereka bangun bersama.Pada hari pengukuhan wilayah itu sebagai kadipaten baru, Tumenggung Wirosena berdiri di depan kerumunan penduduk sambil mengumumkan nama Kutogirang. Sontak mereka bersorak gembira. Dengan restu rakyatnya, Tumenggung Wirosena menobatkan diri sebagai Adipati Kutogirang dan berjanji memimpin dengan bijaksana.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.