Pada masa ketika Surabaya masih berupa kerajaan kecil yang dijaga tembok kadipaten dan rawa di sekelilingnya, hiduplah seorang adipati gagah bernama Jayengrono III. Suatu hari, sang adipati menunggang kuda menembus hutan di wilayah barat Surabaya, berburu kijang bersama pengawalnya. Langit sore memerah, dan di antara pepohonan ia melihat seorang perempuan desa yang kecantikannya memancarkan cahaya Dewi Sangkrah dari Desa Donowati.
Jayengrono III langsung terpikat. Mereka pun menikah secara adat sederhana. Namun tugas negara memanggilnya kembali ke kedaton Surabaya. Sebelum berangkat, ia meninggalkan pesan pada istrinya, “Jika kelak anak kita lahir, beri dia nama Joko Berek. Simpanlah selendang cindei puspita ini. Bila ia mencariku suatu hari nanti, tunjukkan selendang itu di gerbang kedaton.”
Tahun berganti, dan Joko Berek tumbuh menjadi pemuda gagah, lincah, dan pemberani. Ia hanya memiliki satu sahabat setia: seekor ayam jantan tangguh bernama Bagong. Ketika tiba saatnya mencari ayahnya, Joko Berek berjalan ke kedaton Surabaya, membawa harapan dan selendang pusaka peninggalan ayahnya.
Di pintu gerbang kedaton, ia bertemu dua kakak tirinya Sawungrana dan Sawungsari. Mereka tidak percaya bahwa pemuda desa itu adalah darah daging Jayengrono III. “Kalau benar kau putra ayah kami,” ejek mereka, “buktikan dalam gelanggang adu ayam.”
Tantangan diterima. Dalam satu gebrakan, Bagong ayam jago milik Joko Berek melompat, mencakar, dan menjatuhkan ayam-ayam lawan. Kekalahan itu membuat kedua saudara tirinya bungkam. Akhirnya Joko Berek dipertemukan dengan ayahnya. Jayengrono III menitikkan air mata bangga. Ia hendak menyerahkan mahkota dan mengangkat Joko Berek menjadi Jayengrono IV, penerus tahta Surabaya.
Namun demi keadilan, sang adipati membuat sayembara: siapa yang mampu memanah umbul-umbul Tunggul Yuda di alun-alun, dialah pewaris tahta. Banyak kesatria mencoba dan gagal, termasuk Sawungrana dan Sawungsari yang mencoba hingga tiga kali. Saat giliran Joko Berek, ia menunduk memanjatkan doa:
“Biyung Dewi Sangkrah… anakmu minta izin, lancarkanlah panah ini seperti air yang mengalir.”
Anak panah melesat… dan tepat menembus umbul-umbul. Rakyat bersorak. Sejak hari itu, Joko Berek bergelar Raden Sawunggaling, Jayengrono keempat.
Namun kemenangan itu menyalakan bara iri. Belanda yang ingin menguasai Surabaya bersekongkol dengan dua saudara tirinya. Mereka menyiapkan racun untuk membunuh Sawunggaling dan Jayengrono III dalam pesta penobatan. Saat gelas berisi racun hendak disodorkan, Adipati Cakraningrat dari Madura paman Sawunggaling pura-pura menabrak Sawungrana hingga gelas itu terjatuh pecah. Sawungrana licik, berbisik pada Joko Berek bahwa sang paman sengaja menghina dirinya. Marah, Sawunggaling menantang pamannya keluar kedaton.
Di luar, Cakraningrat menjelaskan semuanya. Menyadari tipu daya itu, Sawunggaling menangis menyesal dan bersumpah: ia tak akan pernah tunduk pada Belanda.
Sejak saat itu, Sawunggaling menjadi duri di mata penjajah. Ia memimpin pasukan Surabaya, menyatukan kekuatan Gerbangkertasusila Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan. Pertempuran dahsyat pun pecah. Di Lamongan, pasukan Belanda terpukul mundur. Mereka yang terbiasa perang terbuka, hancur dihantam taktik gerilya pengikut Sawunggaling di rawa-rawa dan kampung-kampung.
Marah besar, Kapitan Pieter Speelman datang membawa tiga kapal perang, memerintahkan pasukannya menggempur Surabaya dari laut. “Ratakan kota ini! Jangan ada tawanan, bunuh semuanya, termasuk Sawunggaling!” teriaknya. Tapi Surabaya tak gentar. Rakyat melawan habis-habisan.
Meski akhirnya kota itu sempat jatuh, keberanian Sawunggaling menjadi legenda. Belanda bahkan melarang siapa pun menulis tentangnya, karena mereka malu atas kekalahan memalukan yang sempat mereka alami di tangan pemuda pemberani itu.
Dan begitulah, nama Sawunggaling dari Joko Berek sang anak desa harum sepanjang masa. Ia dikenang sebagai Adipati Surabaya paling ditakuti penjajah, sang singa pemberani dari tanah Surabaya.