Camplong

URL Cerital Digital: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/23870/1/MORTEKA%20DARI%20MADHURA.pdf
RRI.co.id - Cuaca Buruk, Pantai Camplong Sampang Sepi Pengunjung

Di tanah Madura, terdapat sebuah kisah lama yang hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat. Kisah ini bermula dari seorang tokoh bernama Bhuju’ Alam, seorang ayah yang bijaksana dan penuh pengalaman hidup. Suatu hari, ia memanggil putrinya, Mulyani, lalu memberikan sebuah perintah sederhana yang kelak akan mengubah perjalanan hidup mereka.

Bhuju’ Alam meminta Mulyani untuk mengambil buah nyamplong, sejenis buah yang akrab dengan masyarakat setempat. Buah ini memiliki bentuk yang keras dan berbiji besar. Mulyani pun mengikuti arahan sang ayah, mengeluarkan bijinya hingga hanya tersisa tempurungnya saja. Setelah itu, Bhuju’ Alam mengambil buah nyamplong tersebut dan melemparkannya ke sungai. Ia lalu berkata kepada putrinya, “Perhatikan, di mana nyamplong itu berhenti, di situlah engkau harus menetap.”

Mulyani menatap buah nyamplong yang mengapung mengikuti arus sungai. Ia mengikuti pergerakannya dengan sabar. Buah itu terus terbawa hingga akhirnya berhenti di sebuah hutan belantara yang lebat. Sesuai pesan ayahnya, Mulyani pun menerima tempat itu sebagai takdir baru. Dengan hati yang mantap, ia meninggalkan kampung halamannya di Prajjan dan mulai menapaki kehidupan di hutan yang masih asing.

Di tempat barunya, Mulyani bekerja keras. Ia membabat pepohonan, membersihkan semak belukar, dan sedikit demi sedikit membuka lahan untuk dijadikan tempat tinggal. Dari kerja keras dan ketekunan itu, tumbuhlah sebuah pemukiman kecil. Orang-orang kemudian mengenal daerah tersebut dengan nama Nyamplong, diambil dari buah yang menjadi penunjuk jalan bagi Mulyani. Seiring waktu, sebutan itu berubah menjadi Camplong, nama yang masih melekat hingga sekarang.

Waktu berlalu, dan Mulyani pun menemukan cinta. Ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Abdul Bayan, seorang penduduk asli dari daerah sekitar. Tidak banyak kisah yang diceritakan tentang awal mula pertemuan mereka, tetapi tak lama setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah. Dari pernikahan ini, Mulyani dan Abdul Bayan dikaruniai empat orang anak yang kelak menjadi bagian dari sejarah Camplong.

Kisah ini bukan hanya sekadar cerita tentang asal-usul sebuah tempat, melainkan juga tentang peran penting buah nyamplong dalam perjalanan hidup Mulyani. Buah itu tidak hanya berfungsi sebagai pangan, tetapi juga hadir sebagai simbol petunjuk dan arah dalam kehidupan. Dalam budaya setempat, pangan memang sering kali tidak berhenti hanya sebagai makanan. Ia bisa menjadi tanda, penanda identitas, bahkan sumber inspirasi yang memandu perjalanan manusia.

Camplong, yang namanya diambil dari buah nyamplong, menjadi bukti bahwa pangan dapat menyatu erat dengan sejarah dan budaya masyarakat. Hingga kini, buah nyamplong dikenang sebagai saksi bisu terbentuknya sebuah desa yang bermula dari ketekunan seorang perempuan bernama Mulyani, yang berani mengikuti arahan ayahnya dan menapaki jalan baru dari sebuah buah kecil yang terapung di sungai.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.