Pada masa lampau, di tanah Jawa, hiduplah seorang raja besar bernama Prabu Brawijaya. Dari permaisuri pertamanya, ia memiliki seorang putra bernama Raden Prawirayudha. Dari permaisuri keduanya, lahirlah seorang putri cantik bernama Dewi Ratri. Walau hanya saudara tiri, keduanya tumbuh dalam kasih sayang yang tulus. Mereka bermain bersama, saling melindungi, dan mengisi hari-hari dengan keceriaan.
Seiring waktu, persaudaraan itu berubah menjadi perasaan yang lebih dalam. Raden Prawirayudha mulai merasakan cinta kepada Dewi Ratri, bukan sekadar kasih seorang kakak kepada adiknya. Dewi Ratri pun merasakan hal yang sama, meski mereka sadar cinta itu terlarang.
Prabu Brawijaya akhirnya mengetahui hubungan rahasia anak-anaknya. Murka dan kecewa, beliau memerintahkan Raden Prawirayudha menimba ilmu di lereng gunung, jauh dari istana, dengan larangan kembali sebelum benar-benar matang. Namun, api cinta sulit dipadamkan. Diam-diam Raden Prawirayudha sering meninggalkan padepokan untuk bertemu Dewi Ratri.
Hingga suatu malam, keduanya memutuskan melarikan diri. Mereka meninggalkan keraton, berjalan jauh menuju sebuah desa bernama Mojo. Prabu Brawijaya yang mengetahui hal itu segera mengutus prajurit untuk mengejar mereka. Namun, Raden Prawirayudha yang sakti berhasil menghalau para prajurit, sehingga pelariannya berlanjut.
Perjalanan membawa mereka ke hutan lebat di wilayah Kendhal Punung, Pacitan. Di tengah hutan itu berdiri sebuah pohon yang amat besar, disebut pohon kobong. Pohon ini sangat istimewa karena kulitnya tidak bisa terbakar, bahkan meskipun pernah dicoba disulut api. Kayunya tetap utuh, hanya bagian tengahnya yang berlubang besar, sebesar mulut goa.
Pohon kobong bukan sekadar pohon biasa. Kulitnya yang tahan api menjadikannya berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka memanfaatkannya untuk membuat wadah air dan peralatan dapur, sebab kulit pohon itu kuat menahan panas dan aman digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Raden Prawirayudha dan Dewi Ratri bersembunyi di dalam lubang besar pohon kobong itu. Bertahun-tahun mereka hidup di sana, terlindung dari kejaran prajurit. Lama-kelamaan, pohon kobong yang melindungi mereka semakin tebal dan seperti terbungkus lapisan lemak atau kendal. Dari sinilah kemudian lahir nama Desa Kendal.
Namun waktu berjalan, pohon kobong itu tidak lagi layak dihuni. Mereka pun berpindah ke sebuah goa yang lebih luas dan nyaman. Raden Prawirayudha kemudian meninggalkan Dewi Ratri di dalam goa untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia pergi ke wilayah Kalak dan mendirikan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Rati. Di sana ia menikah dengan putri Ki Ageng Tembayat, seorang tetua berpengaruh.
Sayangnya, ketika Raden Prawirayudha akhirnya kembali ke goa untuk menjemput Dewi Ratri, segalanya sudah berubah. Dewi Ratri merasa hancur hati mengetahui kakaknya sekaligus kekasihnya itu telah mendirikan kerajaan dan menikah dengan wanita lain. Dengan kecewa ia meninggalkan istana dan kembali ke goa yang dahulu menjadi tempat persembunyiannya.
Di dalam goa itu, Dewi Ratri memohon kepada Yang Maha Kuasa. Doanya begitu khusyuk hingga akhirnya ia muksa, menghilang bersama jiwa dan raganya. Sejak saat itu, goa tempat ia bertapa disebut Goa Putri, sebagai pengingat bahwa pernah ada seorang putri yang suci dan tabah hidup di sana.
Kini Goa Putri menjadi salah satu ikon Kabupaten Pacitan, terkenal sebagai bagian dari kisah “Kota 1001 Goa”. Masyarakat setempat tidak hanya mengenangnya sebagai tempat bersejarah, tetapi juga sebagai pengingat tentang pentingnya ketaatan pada orang tua dan kehati-hatian dalam menuruti keinginan hati.
Legenda ini juga membawa pesan tentang pohon kobong, pohon ajaib yang kulitnya tidak bisa terbakar. Dari pohon inilah masyarakat dahulu menemukan cara membuat wadah air dan peralatan dapur yang tahan panas. Pohon kobong menjadi simbol kearifan lokal: bagaimana alam menyediakan perlengkapan pangan dan kebutuhan hidup jika dijaga dengan bijaksana.