
Pada masa lampau, di sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Pasuruan, hiduplah masyarakat yang hidup rukun dan damai. Mereka memegang teguh adat serta kepercayaan lama yang diwariskan nenek moyang, yakni keyakinan animisme dan dinamisme. Setiap unsur alam dianggap memiliki kekuatan, begitu pula pohon besar yang berdiri kokoh di perbatasan desa bagian timur laut. Pohon itu adalah pohon gempol.
Bagi masyarakat kala itu, pohon gempol bukanlah sekadar peneduh atau tanda batas wilayah. Pohon ini diyakini memiliki kekuatan keramat. Banyak orang dari desa maupun luar desa datang untuk bersemedi di bawah naungannya. Mereka percaya bahwa dengan berdiam di sana, memohon dengan sungguh-sungguh, akan datang petunjuk atau wangsit untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Ada pula yang datang dengan membawa sesaji, berharap agar rezekinya dilapangkan.
Malam Jum’at Legi menjadi waktu yang paling ramai. Orang-orang berkumpul di sekitar pohon gempol, menyajikan doa dan permohonan. Seiring berjalannya waktu, nama pohon itu semakin terkenal. Kehadirannya memberi identitas pada masyarakat setempat. Dengan kesepakatan bersama, nama pohon keramat itu dijadikan nama desa. Sejak itulah wilayah tersebut dikenal sebagai Desa Gempol.
Namun pohon gempol tidak hanya sakral dalam kepercayaan, tetapi juga membawa manfaat nyata. Daun, kulit, dan bagian lain dari pohon ini dipakai masyarakat sebagai obat tradisional. Khasiatnya dipercaya dapat mengatasi gangguan pencernaan, mengobati malaria, menyembuhkan luka, bahkan digunakan sebagai ramuan untuk mengobati bisul dan tumor. Dengan begitu, pohon gempol menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, baik secara spiritual maupun sebagai sumber pengobatan alami.
Hingga hari ini, masyarakat Desa Gempol masih memelihara cerita tentang asal-usul desa mereka. Walaupun sulit dibuktikan dengan catatan sejarah tertulis, dongeng ini tetap hidup dari mulut ke mulut, diwariskan turun-temurun. Bagi warga setempat, kisah tentang pohon gempol bukan hanya cerita, melainkan cerminan jati diri desa yang menyatukan mereka sejak dulu.
Kini Desa Gempol terus berkembang, tetapi warisan leluhur tetap terasa. Pohon gempol yang dahulu menjadi tempat semedi, juga dikenang sebagai sumber kebaikan yang pernah memberi obat alami bagi kehidupan masyarakat. Cerita itu menjadi pengingat bahwa pangan dan alam selalu menyimpan kekuatan, bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk menjaga harmoni kehidupan.