
Di sebuah desa bernama Glagahsari, yang terletak di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, terdapat sebuah sumur tua yang begitu melegenda. Warga menyebutnya Sumur Mumbul, sebuah sumber air yang seakan tidak pernah kering meski kemarau panjang melanda. Hingga kini, sumur ini menjadi tumpuan hidup masyarakat, baik untuk kebutuhan sehari-hari, irigasi sawah, maupun sebagai tujuan wisata desa.
Kisah Sumur Mumbul bermula dari masa silam. Dahulu, sumur ini hanyalah sumur biasa yang sering mengering ketika musim kemarau tiba. Seorang lelaki bernama Tarji, yang hidup di desa itu, setiap tahun selalu menyewa tukang gali sumur untuk memperdalam lubang air tersebut. Harapannya sederhana, agar air tetap bisa mengalir untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan warga sekitar.
Pada tahun 1985, sesuatu yang luar biasa terjadi. Dua tukang gali sumur, salah satunya bernama Pak Mansur, ditugaskan untuk memperdalam sumur. Ketika mereka sedang bekerja, tiba-tiba dari dalam bumi menyembur sebuah sumber air besar. Air itu muncul dengan begitu deras hingga para penggali harus berlari memanjat keluar dari sumur, seolah berpacu dengan luapan air yang mengejar mereka.
Kejadian itu membuat warga geger. Air dari sumur tersebut meluap sampai ke permukaan, menandai lahirnya sebuah sumber baru yang melimpah. Anehnya, selama sepekan pertama, air itu berwarna putih seperti susu. Baru setelah itu, warnanya berubah menjadi jernih dan segar, layaknya mata air pegunungan. Dari peristiwa inilah, sumur itu kemudian diberi nama Sumur Mumbul, yang berarti air yang seakan memancar dan berlimpah.
Keajaiban Sumur Mumbul tidak berhenti sampai di sana. Dalam dua tahun pertama setelah munculnya sumber tersebut, banyak orang dari desa sekitar datang membawa anggota keluarga mereka yang sakit. Mereka percaya bahwa air Sumur Mumbul memiliki kekuatan penyembuhan. Beberapa orang bahkan dimandikan langsung di sumur itu dengan harapan sembuh dari penyakit. Sayangnya, kebiasaan itu sering disalahgunakan, hingga akhirnya pemerintah memutuskan untuk menutup akses langsung ke sumur. Meski begitu, sumber airnya tetap dimanfaatkan oleh warga hingga sekarang.
Bagi masyarakat Glagahsari dan sekitarnya, Sumur Mumbul bukan sekadar sumber air. Ia adalah simbol kehidupan, harapan, dan keajaiban alam yang tak ternilai. Airnya mengalir untuk mengairi sawah, menyejukkan dahaga, dan menjadi pengingat bahwa alam senantiasa menyediakan jalan keluar di tengah kesulitan.
Hingga kini, Sumur Mumbul masih menjadi kebanggaan warga Pasuruan. Tidak hanya berfungsi sebagai sumber air yang menopang kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi daya tarik wisata desa. Setiap tetes air yang keluar dari sumur itu membawa cerita lama yang terus hidup, diwariskan dari mulut ke mulut sebagai bagian dari kekayaan budaya dan kearifan lokal Jawa Timur.