Desa Bulugunung

URL Cerital Digital: https://bulugunung.magetan.go.id/portal/desa/sejarah-desa#:~:text=Jadi%20dipadukan%20menjadi%20satu%20antara,Wallohu%20a'lam%20bis%20showab.

Di kaki Gunung Lawu bagian selatan, berdirilah sebuah desa bernama Bulugunung. Nama desa ini tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari kisah panjang yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Para tetua desa menyebutkan bahwa dahulu Bulugunung berasal dari gabungan dua wilayah, yaitu Desa Babar dan Desa Buket. Keduanya memiliki dusun-dusun kecil dengan kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada hasil bumi.

Alkisah, di Dusun Buket tumbuh sebuah pohon besar yang sangat rindang. Pohon itu disebut pohon bulu. Konon, pohon ini bukan sembarang pohon. Akar-akarnya menghujam dalam, seakan menjadi penopang kesuburan tanah di sekitarnya. Daun-daunnya rimbun memberi teduh, dan dari bawah pohon itu masyarakat percaya kesuburan sawah serta ladang di sekitarnya berasal. Berkat pohon bulu, tanah di sekitarnya subur untuk menanam padi, jagung, ketela, hingga kacang-kacangan. Pangan dari hasil bumi inilah yang kelak menjadi nadi kehidupan warga desa.

Di sisi lain, tak jauh dari Buket terdapat sebuah tanah yang menonjol tinggi, menyerupai sebuah gunung kecil. Tempat itu dikenal dengan sebutan Tawang. Walau bukan gunung besar seperti Lawu, Tawang bagi warga tetap istimewa. Ia menjulang bagaikan lambang keteguhan dan pelindung desa. Maka, saat kedua wilayah Babar dan Buket dipersatukan pada masa lalu, masyarakat menyatukan dua lambang ini: pohon bulu dari Buket dan gundukan mirip gunung dari Tawang. Dari sanalah lahir nama desa Bulugunung.

Bagi masyarakat setempat, nama Bulugunung tidak hanya sekadar penanda wilayah. Nama ini mengingatkan mereka bahwa tanah yang mereka pijak adalah anugerah. Pohon bulu melambangkan kesuburan yang memberi mereka pangan, sementara gunung kecil menjadi perlambang keteguhan menjaga kebersamaan. Pangan hasil bumi desa bukan hanya untuk dimakan, tetapi juga untuk mengikat tali silaturahmi. Setiap musim panen tiba, warga akan mengadakan selamatan dengan nasi tumpeng dan hasil kebun, menyatukan seluruh warga dalam doa syukur bersama.

Cerita ini terus hidup, diceritakan oleh para sesepuh seperti Mbah Kasimin, Mbah Mangun Pardi, dan Mbah Karto Gudel. Meskipun detail asal-usulnya memiliki variasi, inti kisah selalu sama: Bulugunung lahir dari perpaduan alam dan budaya, dari pohon bulu yang menyuburkan dan tanah yang menjulang bagaikan gunung. Hingga kini, desa itu tetap berdiri sebagai saksi bahwa pangan dan tanah adalah sumber kehidupan, perekat masyarakat, dan warisan yang harus dijaga.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.