
Pada masa lalu, di wilayah yang kini dikenal sebagai Ngawi, hiduplah seorang tokoh sakti bernama Kyai Kunting. Meski seorang wali, ia kerap menyamar sebagai orang biasa dan memperkenalkan dirinya dengan nama Ki Kukuh. Dalam kesehariannya, ia gemar menolong orang-orang yang kesusahan. Kesaktiannya membuat ia dikenal luas sebagai seorang dukun atau paranormal yang jujur dan berilmu tinggi. Orang Jawa sering menyebutnya Ki Kukuh Sidik Peningale, seorang yang mampu melihat lebih jauh, bahkan tahu apa yang akan terjadi sebelum orang lain menyadarinya.
Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu kepadanya. Ki Kukuh kemudian mendirikan sebuah padepokan yang kelak dinamakan Padepokan Kukuh. Seiring waktu, padepokan ini semakin tersohor, hingga datanglah dua perempuan bersaudara yang dikenal sebagai Rondo Ireng dan Rondo Kuning.
Kedua perempuan ini adalah janda akibat pecahnya Keraton Mataram. Mereka kehilangan suami di medan perang, sehingga harus melarikan diri bersama anak-anak mereka menuju tanah Jawa Timur. Rondo Ireng membawa seorang putra bernama Sutadi, sedangkan Rondo Kuning memiliki seorang putri cantik bernama Roro Bandini. Meski Sutadi dan Roro Bandini adalah sepupu, keduanya diam-diam menjalin asmara yang penuh kerahasiaan.
Berita mengenai Ki Kukuh sebagai seorang wali yang sakti dari Mataram sampai juga ke telinga mereka. Maka sampailah Rondo Ireng dan Rondo Kuning beserta anak-anaknya di Padepokan Kukuh. Di sanalah tabir penyamaran Ki Kukuh akhirnya terbuka. Ia mengakui bahwa dirinya tak lain adalah Kyai Kunting, seorang wali yang memilih hidup sederhana.
Padepokan Kukuh berdiri megah di dekat sebuah pohon kukun yang besar dan rindang. Pohon ini kelak dikenal sebagai pohon sukun, yang buahnya begitu berguna bagi kehidupan masyarakat. Buah sukun yang berwarna hijau dan berdaging putih mengandung karbohidrat tinggi, menjadi sumber tenaga yang mampu mengenyangkan layaknya nasi. Selain itu, sukun kaya akan vitamin dan mineral, sehingga dapat diolah menjadi berbagai makanan pokok maupun camilan. Dalam masa sulit ketika beras langka, sukun menjadi penyelamat, memberi makan banyak keluarga tanpa harus kehilangan nilai gizi.
Melihat pohon kukun yang kokoh itu, Kyai Kunting bersabda bahwa kelak, ketika zaman ramai dan peradaban semakin maju, daerah itu akan dikenang dengan nama Walikukun. Nama ini berasal dari kata “Wali” yang merujuk pada dirinya, dan “Kukun” yang merujuk pada pohon kukun yang menjadi saksi perjalanan sejarah tersebut.
Sejak saat itulah, desa itu dikenal dengan sebutan Desa Walikukun. Hingga kini, desa ini masih menyimpan kisah keramat dari pohon kukun yang dahulu menaungi padepokan. Selain itu, masyarakatnya tetap menjaga tradisi memanfaatkan buah sukun sebagai sumber pangan, baik direbus, digoreng, atau dijadikan bahan olahan yang lezat. Pohon sukun tak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga lambang ketahanan pangan bagi masyarakat Jawa Timur.