Sumber Kali Gedhe

URL Cerital Digital: https://timesindonesia.co.id/peristiwa-daerah/472167/jejak-sejarah-desa-lumbang-probolinggo-melalui-sumber-mata-air-tirto-ageng

Di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur, tersimpan sebuah legenda yang diwariskan turun-temurun. Dahulu kala, para leluhur diyakini melakukan tirakat di bawah pohon luh, sejenis pohon besar yang kala itu tumbuh melimpah di sekitar Sumber Tirto Ageng. Tirakat ini dilakukan dengan penuh kesungguhan, memohon berkah dan petunjuk kepada Sang Pencipta.

Dalam keheningan tirakat itu, terjadi peristiwa ajaib. Dari tanah yang mereka pijak, muncul pancuran air yang melimpah. Air itu mengalir deras, seakan menjadi jawaban atas doa dan laku spiritual para leluhur. Konon, pancuran yang begitu besar membuat sosok Eyang Putri Mbh Mubit Sri Murni tampak melayang, seolah terapung di udara. Peristiwa luar biasa itu kemudian menjadi awal mula penamaan wilayah ini.

Eyang Putri menamai tempat tersebut dengan sebutan Lumbang. Nama itu diambil dari kata “Lu” yang merujuk pada pohon luh, dan “bang” yang berasal dari kata kemambang atau ngambang, mengingat momen ketika dirinya seakan terapung di tengah derasnya sumber air. Sejak saat itu, nama Lumbang melekat dan diwariskan hingga kini.

Tidak hanya satu, melainkan tiga sumber besar muncul dari tirakat para leluhur. Sumber pertama diberi nama Sumber Kali Gedhe oleh Eyang Putri Mbh Mubit Sri Murni. Sumber kedua dinamai Sumber Umbulan oleh Eyang Nameng Joyo. Sedangkan sumber ketiga diberi nama Sumber Kali Duren oleh Eyang Baridin. Ketiga sumber ini menjadi penopang kehidupan bagi masyarakat sekitar, membawa air yang tak pernah kering sepanjang musim.

Bagi warga Lumbang, keberadaan sumber-sumber ini lebih dari sekadar peninggalan leluhur. Airnya menjadi urat nadi kehidupan yang mengairi sawah, ladang, dan kebun. Dari sinilah padi yang menjadi makanan pokok dapat tumbuh subur, jagung bisa dipanen, serta sayur-mayur dan tanaman kebun lainnya memberikan hasil. Dengan kata lain, legenda Lumbang bukan hanya sebuah kisah masa lalu, melainkan juga penanda betapa air dan pangan memiliki keterhubungan yang sakral.

Hingga kini, masyarakat setempat masih menjaga tradisi menghormati sumber-sumber tersebut. Mereka percaya bahwa sumber air bukan hanya karunia alam, tetapi juga titipan leluhur yang harus dirawat. Setiap tetesnya adalah penopang pangan dan kehidupan, sebagaimana doa yang pernah dipanjatkan para leluhur di bawah pohon luh berabad-abad silam.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.