Di wilayah Pacitan yang dikelilingi bukit dan pantai, berdirilah sebuah gunung yang dikenal dengan nama Gunung Limo. Kini gunung ini menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik, bahkan semakin populer setelah dijadikan judul lagu “Gung Lima” ciptaan Presiden RI ke-6. Namun di balik keindahannya, Gunung Limo menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, syiar, dan bagaimana manusia belajar memanfaatkan alam untuk kehidupan, terutama dalam hal pangan dan pertanian.
Alkisah, sosok yang pertama kali membuka hutan di lereng Gunung Limo adalah seorang tokoh sakti bernama Eyang Tunggul Wulung. Ia bukan hanya pelopor babat alas, tetapi juga diyakini sebagai pembawa ajaran Islam di daerah itu. Bersama seorang pengikut setia bernama Mbah Brayut, ia menetap di kawasan yang kini menjadi Desa Mantren dan Sidomulyo.
Asal-usul Eyang Tunggul Wulung erat kaitannya dengan sejarah Demak Bintoro, kerajaan Islam pertama di Jawa. Ia dahulu adalah seorang prajurit soreng pati, yakni prajurit pilihan yang berani berkorban hingga akhir hayat. Karena keberanian dan dedikasinya, ia diangkat menjadi mantri tamtama. Dalam tugasnya, ia dipercaya menjaga sebuah panji suci berwarna hitam, Kyai Tunggul Wulung, yang harus dikibarkan di puncak gunung-gunung sebagai tanda syiar Islam. Dari pusaka itulah kemudian ia dikenal dengan sebutan Eyang Tunggul Wulung.
Kehadirannya di Gunung Limo bukan sekadar membuka lahan untuk pemukiman. Ia mengajarkan masyarakat cara memanfaatkan alam dengan bijaksana. Hutan dibabat secukupnya, tanah dibersihkan lalu diolah menjadi sawah dan ladang. Air yang mengalir dari lereng gunung dimanfaatkan untuk mengairi persawahan. Pepohonan tetap dijaga agar tidak terjadi longsor, sementara lahan subur digunakan untuk menanam padi dan tanaman pangan lain. Dengan cara ini, masyarakat lereng Gunung Limo mampu memenuhi kebutuhan pangan tanpa merusak keseimbangan alam.
Simbol-simbol pemanfaatan alam secara bijak juga tercatat dalam sejarah. Pada masa Batara Katong, penguasa Wengker yang masih memiliki hubungan dengan Demak, dilakukan pula pembabatan hutan untuk membuka pemukiman baru. Dalam sebuah prasasti batu gilang yang ditemukan di makam Batara Katong, terdapat candrasengkala memet berupa gambar manusia, pohon, burung garuda, dan gajah. Gambar-gambar itu melambangkan angka tahun 1418 Saka atau 1496 Masehi, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa manusia, hewan, dan tumbuhan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.
Di lereng Gunung Limo, masyarakat memahami bahwa keberadaan mereka bergantung pada alam. Manusia memerlukan lahan untuk bercocok tanam, pepohonan untuk menjaga kesuburan tanah, hewan seperti burung dan gajah sebagai bagian dari ekosistem, dan gunung sebagai sumber air yang memberi kehidupan. Semua itu menjadi dasar bagi pengelolaan pangan, terutama dalam menjaga pertanian agar tetap lestari.
Hingga kini, masyarakat sekitar masih menghormati Gunung Limo bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai simbol keseimbangan antara manusia dan alam. Dari generasi ke generasi, cerita tentang Eyang Tunggul Wulung dan jejak syiar Islam di lereng gunung ini diwariskan sebagai pengingat agar manusia tidak tamak dalam mengelola bumi.
Gunung Limo bukan hanya saksi sejarah masuknya Islam di Pacitan, tetapi juga pengingat bahwa pangan berasal dari alam yang harus dijaga. Lahan pertanian di lereng gunung, tanaman padi yang tumbuh subur, serta kearifan menjaga hutan adalah warisan berharga yang memungkinkan masyarakat Pacitan bertahan hidup dengan baik hingga hari ini.