Di sebuah desa bernama Luworo, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah punden yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Punden itu dikenal dengan nama Punden Mbah Berdi. Di balik nama tersebut tersimpan kisah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, menyatu dengan sejarah kerajaan lama, pertapaan, dan peninggalan yang hingga sekarang masih menjadi tanda pertemuan antara budaya, spiritualitas, dan pangan.
Menurut cerita masyarakat, nama Mbah Berdi sejatinya merupakan akronim dari Sumberwedi, sebuah sebutan kuno di wilayah tersebut. Sosok Mbah Berdi sendiri dipercaya sebagai seorang senopati dari Kerajaan Demak yang kemudian melarikan diri ke Desa Luworo. Nama aslinya tidak pernah diketahui, bahkan masyarakat tidak berusaha mencari tahu, seakan-akan sosoknya memang ditakdirkan untuk hidup dalam misteri. Ada pula cerita lain yang menyebutkan bahwa Mbah Berdi berasal dari Pajang, seorang pangeran yang memilih jalan sunyi sebagai pertapa di Gunung Atas Angin. Ia kemudian meninggal di sana, tetapi dimakamkan di Desa Luworo. Sebagian masyarakat percaya bahwa pangeran itu adalah Raden Menak Anggrung, yang melarikan diri dari negaranya lalu berkelana ke berbagai desa di Caruban Utara seperti Tapelan, Senggé, dan Berdi.
Punden Mbah Berdi juga memiliki kaitan erat dengan dua punden lain, yakni Sendang Jonopuro dan Punden Atas Angin. Kedua tempat itu dipercaya sebagai titik penting dalam perjalanan spiritual Mbah Berdi. Konon, di situlah ia melakukan tapa dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Hingga kini, punden-punden tersebut tetap dikeramatkan dan dijaga dengan penuh kesetiaan oleh para juru kunci yang mewarisi tugas itu secara turun-temurun.
Selain meninggalkan kisah yang sarat nuansa spiritual, Mbah Berdi juga memiliki peninggalan berupa tiga pusaka. Pertama, pisau kudi trantang yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu. Kedua, tongkat kayu dengan ujung besi yang menemaninya dalam perjalanan. Ketiga, sepotong batok kelapa yang digergaji rapi, dikenal dengan nama batok bolo. Benda terakhir inilah yang menjadi pengingat akan peran kelapa dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di sekitar Desa Luworo.
Kelapa bagi masyarakat desa bukan sekadar buah biasa. Pohon ini dikenal sebagai “pohon kehidupan” karena hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan. Dalam kisah Mbah Berdi, batok kelapa yang menjadi salah satu pusakanya melambangkan kegunaan kelapa bagi manusia. Batok kelapa sering diolah menjadi peralatan sederhana seperti mangkuk, gayung, atau wadah penyimpanan. Tidak hanya itu, batok yang sudah kering juga dapat dijadikan arang yang berguna untuk memasak makanan sehari-hari. Api dari arang batok kelapa terkenal tahan lama dan menghasilkan panas yang stabil, sehingga sangat bermanfaat dalam dapur tradisional.
Melalui peninggalan pusaka tersebut, masyarakat percaya bahwa Mbah Berdi tidak hanya meninggalkan warisan spiritual, tetapi juga mengajarkan kearifan hidup yang bersumber dari alam. Kelapa yang hadir dalam kehidupannya menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kekuatan. Dalam keseharian masyarakat Bojonegoro, kelapa dan hasil olahannya terus dimanfaatkan, tidak hanya untuk kebutuhan praktis, tetapi juga dalam berbagai upacara adat dan ritual desa.
Kini, Punden Mbah Berdi tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat sekitar. Setiap tahun, warga kerap mengadakan selamatan dan ritual di punden tersebut, membawa sesaji, doa, serta harapan akan keselamatan desa. Punden ini menjadi titik temu antara legenda, sejarah, dan kearifan lokal yang terus dijaga.
Kisah Mbah Berdi mengingatkan kita bahwa pangan tidak hanya berfungsi untuk mengenyangkan tubuh, tetapi juga mengikat kehidupan sosial, spiritual, dan budaya. Batok kelapa yang sederhana sekalipun menyimpan makna mendalam, sebagai simbol peralatan, energi untuk memasak, dan jejak sejarah yang tidak boleh dilupakan. Seperti punden yang masih berdiri tegak, kisah ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai warisan leluhur dan memandang pangan sebagai bagian dari perjalanan panjang manusia dalam merawat kehidupan.