
Di Mojokerto, Jawa Timur, terdapat sebuah kisah yang diwariskan turun-temurun tentang seorang tokoh penyebar Islam bernama Pangeran Bulu. Ia bukan sekadar sosok bersejarah, tetapi juga membawa jejak yang melekat erat dengan pohon bulu, sebuah tumbuhan yang memiliki manfaat penting bagi pangan, kesehatan, dan lingkungan.
Cerita bermula di Dusun Jolotundo, sebuah daerah yang berada di jajaran Pegunungan Kendeng. Di sana, pada sebuah dataran tinggi yang relatif rata, terdapat makam panjang yang diyakini sebagai makam Pangeran Bulu. Panjangnya mencapai sekitar empat meter, berdiri di puncak bukit seolah menandakan bahwa yang bersemayam di sana adalah sosok yang dimuliakan. Pada nisan tertulis nama Raden Suwahyu, putra dari Zainal Abidin yang bergelar Susuhunan Dalem. Ia adalah cucu dari Raden Paku atau Sunan Giri, salah satu tokoh Walisongo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
Sunan Giri sendiri memiliki garis keturunan ningrat. Dari ibunya, Dewi Sekardadu, ia terhubung dengan Raja Blambangan, sementara dari ayahnya, Maulana Ishaq, ia masih bersambung dengan Syech Jumadil Qubro. Dengan demikian, keturunan Sunan Giri, termasuk Raden Suwahyu, dipercaya masih memiliki garis nasab yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak heran bila derajat mereka dihormati tinggi oleh masyarakat.
Raden Suwahyu, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Bulu, merupakan salah satu dari sembilan bersaudara. Hampir semua saudaranya diutus untuk berdakwah di berbagai wilayah. Sunan Prapen, misalnya, menyebarkan Islam di Gresik, sementara yang lain menyebar ke Lamongan, Surabaya, hingga daerah pesisir lainnya. Adapun Pangeran Bulu mendapat amanah untuk menetap dan berdakwah di daerah Bulu, yang kini masuk dalam wilayah Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Mojokerto. Dari sanalah ia kemudian dikenal dengan sebutan Pangeran Bulu.
Kisah Pangeran Bulu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pohon bulu, atau yang dikenal pula dengan nama harendong bulu atau senduduk bulu. Pohon ini tumbuh subur di sekitar perbukitan. Masyarakat percaya bahwa pohon bulu menjadi bagian dari identitas tempat Pangeran Bulu menunaikan tugasnya. Buahnya kecil, berwarna ungu kehitaman saat matang, memiliki rasa manis dengan sedikit gurih, dan dapat dimakan langsung. Bagi para pejalan atau pendaki yang tersesat di hutan, buah bulu bisa menjadi camilan darurat yang menyelamatkan.
Tidak hanya buahnya yang bermanfaat, daun pohon bulu juga dipercaya memiliki khasiat obat. Sejak lama, masyarakat memanfaatkannya untuk menghentikan pendarahan dengan cara menempelkan daun segar pada luka. Sementara itu, perakaran pohon bulu yang kuat berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam. Akar-akarnya menahan erosi tanah dan membantu menjaga siklus air, sehingga desa-desa di lereng perbukitan tetap subur.
Dengan demikian, pohon bulu tidak hanya menjadi penanda tempat Pangeran Bulu berdakwah, tetapi juga simbol kehidupan yang memberi manfaat bagi manusia dan alam. Dari buah yang dapat dimakan, daun yang berkhasiat, hingga akar yang menjaga tanah, pohon bulu seakan menjadi warisan alami yang mendukung kehidupan masyarakat setempat.
Hari ini, masyarakat Mojokerto masih mengenang Pangeran Bulu sebagai cucu Sunan Giri yang setia menyebarkan Islam. Legenda ini bukan sekadar kisah tentang seorang tokoh religius, melainkan juga tentang bagaimana manusia dan alam saling terhubung. Pohon bulu menjadi saksi bisu pengabdian Pangeran Bulu, sekaligus pengingat bahwa pangan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan tidak pernah bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.