
Di Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, terdapat sebuah desa bernama Sumbergedong. Nama desa ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari sebuah sumber mata air yang menjadi pusat kehidupan warganya. Dahulu, masyarakat menyebut sumber itu sebagai “Mbelik”. Airnya jernih, tak pernah kering, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda desa-desa lain. Sumber itu kemudian dibendung atau dalam bahasa Jawa disebut “didegong”, hingga lama-kelamaan tempat itu dikenal dengan nama Sumbergedong.
Namun, di balik keberkahan air yang melimpah, sumber ini juga menyimpan cerita mistis yang diyakini masyarakat hingga sekarang. Konon, ada penunggu gaib bernama Mbah Mbelik yang menjaga sumber tersebut. Suatu hari, seorang anak bernama Jaka Bares sedang bermain di sekitar sumber. Tanpa diduga, ia “diminta” menjadi pengganti penjaga. Sejak itu, Jaka Bares tidak pernah kembali ke rumah. Warga percaya, ia menjelma menjadi makhluk bernama Asu Baung, sosok seperti anjing tetapi berukuran jauh lebih besar.
Kehadiran Asu Baung dianggap sebagai pertanda. Jika ia muncul dan mengaum pada malam hari, keesokan paginya sering terjadi pagebluk, yaitu wabah yang membuat banyak orang sakit dan meninggal. Karena itu, masyarakat setempat sangat menghormati sumber air ini.
Sumbergedong tidak hanya menyediakan air minum bagi warga, tetapi juga menjadi penopang pertanian. Ladang dan sawah tetap subur berkat aliran air dari sana, sehingga pangan tetap tersedia meski musim kemarau panjang. Untuk menjaga kelestarian dan keselamatan desa, setiap bulan Sela dalam penanggalan Jawa diadakan ritual Nyadran. Pada saat itu, warga berpuasa sehari semalam, menguras sumber, membersihkan sekitarnya, lalu menaburkan bunga sebagai simbol penghormatan. Air yang sempat surut akan kembali penuh dengan sendirinya, seakan menunjukkan kekuatan gaib yang menghidupi desa.
Selain Nyadran, ada pula kebiasaan warga yang selalu meminta izin di sumber air sebelum mengadakan hajatan besar seperti pernikahan atau khitanan. Jika syukuran itu diabaikan, dipercaya Asu Baung akan mengganggu jalannya acara. Pernah diceritakan, sebuah pesta pernikahan dilanda hujan deras dan malamnya terdengar auman di depan rumah penyelenggara. Sejak itu, tak seorang pun berani melupakan ritual syukur.
Pada masa kini, tradisi itu tetap dipertahankan. Setiap tahun warga mengadakan bersih desa. Mereka bekerja bakti membersihkan lingkungan, membawa hasil bumi dalam arak-arakan sebagai tanda syukur atas panen, lalu menutupnya dengan makan bersama. Semua kegiatan itu berpusat pada sumber air, karena dari situlah kehidupan mereka bertahan.
Air di Sumbergedong tidak hanya mengalir untuk menenangkan dahaga, tetapi juga menumbuhkan sawah, menjaga ketahanan pangan, dan mempererat persaudaraan warga. Legenda Mbah Mbelik dan Asu Baung pun menjadi pengingat bahwa sumber daya alam harus dihormati, dijaga, dan disyukuri agar tetap memberi kehidupan bagi generasi berikutnya.