Di Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah cerita rakyat yang hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat. Cerita itu dikenal dengan nama Gajah Bolong, sebuah kisah yang berkaitan dengan lubang besar dan sendang yang sejak dahulu menjadi sumber kehidupan warga sekitar. Bukan hanya legenda, tetapi juga bagian dari sejarah pangan karena air dari sendang tersebut telah lama menjadi sumber air minum yang menyegarkan dan menyehatkan.
Konon, di masa lampau ada sebuah lubang raksasa yang ukurannya sebanding dengan tubuh seekor gajah dewasa. Lubang itu membentang sepanjang kira-kira dua ratus meter di bawah tanah kosong yang kini dikenal sebagai Taman Gajah Bolong. Ujung lubang tersebut berakhir di sebuah sendang, yaitu mata air alami yang sekarang berada di bawah Kantor Kecamatan Baureno. Lubang besar inilah yang melahirkan nama Gajah Bolong. Masyarakat percaya bahwa lubang tersebut bukan jalur biasa, melainkan jalan gaib yang hanya dapat digunakan oleh makhluk halus untuk berpindah tempat.
Sendang yang menjadi ujung lubang itu dahulu berfungsi penting bagi masyarakat. Airnya jernih, sejuk, dan tidak pernah kering meski musim kemarau melanda. Warga setempat menjadikannya sebagai sumber air minum utama. Selain itu, sendang juga memiliki nilai spiritual karena sering dipakai untuk ritual nyawiji ing pangeran, yang lebih dikenal dengan sebutan nyadran. Dalam tradisi ini, masyarakat berkumpul untuk mendoakan para leluhur dan memohon berkah kepada Tuhan. Ritual tersebut menegaskan betapa erat hubungan antara air sebagai sumber pangan dengan keyakinan serta kehidupan sosial masyarakat.
Hingga kini, masyarakat percaya bahwa di bawah Kantor Kecamatan Baureno masih mengalir air dari sendang yang sama. Meski bangunan telah berdiri, keyakinan akan keberadaan sumber air itu tidak pernah pudar. Bahkan, nama Gajah Bolong diabadikan untuk menamai kawasan sekitar, sehingga kisah ini terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain kisah lubang gaib dan sendang, terdapat pula cerita lain yang menyebutkan adanya sebuah patung gajah. Patung ini konon berdiri di depan sebuah rumah tua berpagar hijau yang menghadap ke selatan, terletak di sebelah barat Perempatan Gajah Bolong. Kehadiran patung tersebut semakin memperkuat imajinasi masyarakat tentang asal-usul nama Gajah Bolong, meski sejarah pastinya masih menjadi misteri.
Cerita rakyat Gajah Bolong tidak hanya menyuguhkan misteri tentang lubang gaib, tetapi juga mengingatkan betapa pentingnya sumber air bagi kehidupan. Air dari sendang telah menjadi penopang pangan masyarakat sejak dahulu, baik sebagai minuman yang menyehatkan maupun sebagai bagian dari ritual adat yang menjaga harmoni antara manusia dan alam. Hingga hari ini, Gajah Bolong tetap menjadi simbol bahwa di balik legenda selalu tersimpan pesan tentang kelestarian sumber daya alam dan pentingnya menjaga keseimbangan hidup.