Di sepanjang aliran Bengawan Solo, Bojonegoro, tersimpan sebuah kisah yang masih hidup dalam ingatan masyarakat, meski jarang terdengar di telinga generasi muda. Kisah itu adalah tentang Rondo Mori, sosok legendaris yang namanya erat dengan sebuah desa di bantaran sungai, yakni Desa Mori. Nama Rondo Mori sendiri berarti Janda dari Mori, meski asal-usul kisahnya masih diselimuti misteri. Hingga kini, warga hanya mengenalnya sebagai tokoh gaib yang meninggalkan jejak di berbagai tempat, terutama di Kecamatan Trucuk dan sepanjang tepian Bengawan Solo.
Menurut cerita yang berkembang, Rondo Mori memiliki kesaktian luar biasa. Ia mampu berubah wujud menjadi seekor buaya putih raksasa yang muncul dari dalam Bengawan Solo. Tidak sedikit cerita dari mulut ke mulut yang menuturkan tentang kemunculan buaya putih tersebut. Konon, kemunculannya menjadi tanda bahwa sungai itu dijaga oleh kekuatan gaib, sekaligus membawa pesan agar masyarakat selalu menjaga keseimbangan alam. “Ya masih jadi cerita orang-orang tua,” tutur warga setempat, yang masih percaya pada legenda ini.
Namun kisah Rondo Mori tidak berhenti di tepian Bengawan Solo. Di daerah selatan Bojonegoro, tepatnya di Dusun Kadung, Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, sekitar 65 kilometer jauhnya, masyarakat juga mengenal petilasan yang diyakini sebagai jejak Rondo Mori. Di sana terdapat sebuah air terjun dan aliran sungai yang dipercaya sebagai tempat persinggahan sang legenda. Keyakinan ini memperkuat pandangan bahwa Rondo Mori tidak hanya menjaga Bengawan Solo, tetapi juga memiliki ikatan dengan berbagai mata air dan aliran sungai lain di Bojonegoro.
Bengawan Solo, dengan alirannya yang panjang dan deras, tidak hanya menyediakan air bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber pangan yang penting. Ikan-ikan yang hidup di dalamnya sudah lama menjadi bagian dari keseharian warga. Kehadiran legenda buaya putih yang dikaitkan dengan Rondo Mori memberi dimensi lain bagi fungsi sungai ini. Ia tidak hanya sebagai penyedia makanan, melainkan juga sebagai simbol perlindungan dan keseimbangan. Bagi warga, mengambil ikan dari Bengawan Solo bukan sekadar aktivitas mencari nafkah, tetapi juga bagian dari tradisi yang harus dijalankan dengan rasa hormat kepada alam dan penunggunya.
Legenda Rondo Mori menjadi pengingat bahwa pangan dan alam selalu terkait dengan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Sungai, ikan, dan mitos buaya putih yang dijaga Rondo Mori tidak hanya membentuk kisah mistis, tetapi juga memperlihatkan betapa erat hubungan manusia dengan lingkungan tempat ia hidup. Dari cerita ini, masyarakat Bojonegoro belajar bahwa menghormati sungai berarti juga menjaga sumber kehidupan mereka.