Legenda Goa Ngerong

Di Kabupaten Tuban, tepatnya di Kecamatan Rengel, terdapat sebuah gua yang hingga kini menyimpan kisah panjang penuh nilai dan makna. Gua itu dikenal dengan nama Goa Ngerong, sebuah tempat yang bukan hanya menjadi situs legenda, tetapi juga sumber air yang menghidupi masyarakat sekitarnya.

Kisah ini bermula pada abad ke-9, ketika Kerajaan Gumenggeng yang dipimpin Raden Arya Bangah dilanda musim kemarau panjang. Pegunungan kapur di sekitarnya membuat kerajaan itu kerap kekurangan air. Sawah mengering, hasil panen gagal, dan rakyat kelaparan. Dalam situasi genting itu, sang raja bersemedi di puncak Bukit Nglai untuk memohon petunjuk. Dalam mimpinya, ia mendapat pesan bahwa kekeringan hanya dapat diatasi jika ada seseorang yang berani bertapa di wilayah angker, yang dikenal dijaga makhluk gaib.

Maka diadakanlah sayembara, dan muncullah seorang tokoh bernama Ki Jalak Ijo, juga dikenal sebagai Kumbang Wijoyo Kusumo. Dengan penuh keyakinan, ia menerima tugas berat itu. Bersama senopati dan para pengawal kerajaan, ia menempuh perjalanan menuju daerah berbatu terjal yang disebut ngrengkel-ngerengkel. Dari kata itulah kemudian lahir nama daerah Rengel.

Sesampainya di sana, Ki Jalak Ijo bertemu Dewi Laras, seorang perempuan yang baru melahirkan dan sangat membutuhkan air. Karena tidak menemukan sumber, ia mencari hingga menemukan sebuah celah di antara bebatuan. Dari celah itulah kemudian muncul air yang jernih, dan gua itu dinamakan Goa Ngerong, dari kata rong atau ngerong yang berarti celah atau lubang. Di tempat itu pula Ki Jalak Ijo melakukan tapa brata dengan menancapkan tongkatnya.

Setelah bertapa, ia mencabut tongkatnya, dan tiba-tiba dari celah itu memancar air deras yang kemudian mengalir membelah Desa Rengel. Air tersebut menjadi berkah besar karena menyelamatkan rakyat dari paceklik. Namun, kisah itu juga diwarnai tragedi. Senopati dan para pengawal yang diperintahkan agar tidak menoleh ke belakang tergoda oleh bayangan seorang gadis cantik. Begitu mereka menoleh, gadis itu berubah menjadi jelmaan putri penunggu gua dan mengutuk mereka menjadi kura-kura, ikan lele, serta ikan aneh bernama Truno Lele, ikan tanpa daging yang dipercaya hanya muncul pada waktu tertentu. Sejak itu, Goa Ngerong dihuni berbagai makhluk, mulai dari ikan, bulus, hingga kelelawar.

Ki Jalak Ijo kemudian berpesan agar tidak seorang pun mengambil ikan atau hewan lain dari Goa Ngerong. Siapa saja yang melanggar akan ditimpa kesialan atau bahkan kehilangan nyawa. Pantangan ini terus dipercaya hingga kini, menjadikan ekosistem Goa Ngerong tetap terjaga alami. Ribuan ikan masih hidup di aliran sungai gua, kura-kura berenang dengan tenang, kelelawar menggantung di langit-langit gua, dan aliran air tetap deras menghidupi sawah-sawah warga.

Air yang memancar dari Goa Ngerong hingga kini dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan. Terlebih, aliran sungai dari gua ini menjadi sumber air untuk irigasi ribuan hektar sawah di Rengel, menjadikan desa tersebut subur dan hasil panennya berlimpah. Berkat air ini, masyarakat tak lagi khawatir menghadapi musim kemarau panjang.

Selain fungsi praktisnya, Goa Ngerong juga menjadi pusat tradisi dan kebudayaan. Setiap bulan Besar pada Minggu Kliwon, masyarakat menggelar tradisi Manganan atau sedekah bumi, dengan menyembelih hewan ternak dan mengadakan pagelaran wayang semalam suntuk. Ziarah ke petilasan Ki Jalak Ijo setiap Jumat Legi juga terus dilakukan hingga kini.

Goa Ngerong bukan sekadar tempat wisata alam. Ia adalah simbol keteguhan, keberanian, dan kearifan lokal. Dari air yang mengalir deras, masyarakat mendapatkan kehidupan. Dari mitos yang diwariskan, lingkungan tetap terjaga. Legenda ini mengingatkan bahwa alam selalu menyediakan jalan keluar bagi manusia yang menghormati dan menjaganya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.