Legenda tentang asal-usul gaplek di Desa Joho, Kabupaten Tulungagung, berawal dari sebuah peristiwa paceklik panjang. Saat itu, masyarakat setempat mengalami kesulitan karena sumber mata air mengering. Sawah dan ladang tak lagi bisa ditanami padi, sehingga rakyat terancam kelaparan.
Dalam keadaan genting tersebut, sesepuh desa mengambil kebijakan bijak. Ia memerintahkan seluruh warga Desa Joho untuk menanam singkong, tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan. Hasilnya, singkong tumbuh subur dan menjadi penyelamat masyarakat dari bencana kelaparan.
Agar bisa bertahan lebih lama, masyarakat kemudian mengolah singkong itu dengan cara dikupas, dipotong, lalu dijemur hingga kering. Dari situlah lahirlah gaplek, olahan singkong kering yang awet disimpan dan mudah diolah kembali menjadi berbagai makanan pokok pengganti beras.
Sejak saat itu, gaplek bukan hanya sekadar bahan pangan, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan dan kearifan masyarakat Joho dalam menghadapi krisis. Hingga kini, gaplek masih dikenal sebagai salah satu warisan kuliner tradisional Tulungagung yang lahir dari kesulitan, namun memberi kekuatan bagi kehidupan.