Legenda Pohon Asam Dono

URL Cerital Digital: https://www.pasak.or.id/2023/09/carita-pepundhen-mediyun-menelusuri.html

Di sebuah desa bernama Bagi, yang terletak di wilayah Madiun, berdiri sebuah pohon asam tua yang kokoh. Pohon itu tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga menyimpan cerita panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat setempat, pohon asam ini dikenal sebagai Pohon Asam Dono.

Alkisah, tokoh yang pertama kali membuka dan membabad Desa Bagi adalah Kyai Lingsang, yang juga dikenal sebagai Asieng Sutawijaya. Walaupun namanya jarang disebut dalam ingatan masyarakat, jasa-jasanya masih terpatri di tanah itu. Makam Kyai Lingsang kini berada di pemakaman umum Desa Bagi, berdekatan dengan peninggalan kuno dari masa Hindu seperti yoni, umpak, dan kala tanpa rahang. Artefak-artefak itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah desa yang panjang.

Tidak jauh dari pemakaman, sekitar tiga ratus meter ke arah utara, tumbuh tegak pohon asam yang ditanam oleh Kyai Lingsang. Hingga kini pohon itu masih berdiri dengan gagah, menjadi punden desa yang dihormati. Nama Dono yang melekat pada pohon itu berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang bermakna memberi secara ikhlas demi kebaikan. Makna ini sejalan dengan laku hidup Kyai Lingsang. Konon, ia sering menaruh hasil panen dari kebunnya di bawah pohon asam itu agar siapa saja yang membutuhkan bisa mengambilnya. Dengan cara itu, Kyai Lingsang menanamkan nilai berbagi dan kepedulian bagi masyarakat sekitar.

Pohon asam ini tidak hanya menyimpan kisah kedermawanan, tetapi juga jejak sejarah peperangan. Dalam cerita rakyat, Pohon Asam Dono disebut-sebut sebagai tempat peristirahatan pasukan Madiun ketika berperang melawan Bali. Meski sulit menemukan bukti sejarah tertulis tentang hal ini, kisah tersebut kerap dikaitkan dengan cerita Panji Jayakusuma yang mengisahkan penyerangan Bali oleh tokoh Gegelang atau Urawan. Bahkan ada pula yang mengaitkan Gegelang dengan kerajaan di Desa Dolopo.

Tak berhenti sampai di situ, Pohon Asam Dono juga hadir dalam kisah asal-usul Desa Tiron. Diceritakan bahwa Pangeran Denawa pernah menggunakan tempat itu untuk menyiapkan logistik sebelum menyerang Kademangan Gedangan, wilayah kediaman Gajangsurengpati. Dengan begitu, pohon ini tidak hanya menjadi saksi bisu kedermawanan seorang tokoh, tetapi juga bagian dari strategi peperangan yang penting.

Bagi masyarakat desa, Pohon Asam Dono lebih dari sekadar pohon besar yang tumbuh di tengah lapangan. Pohon ini menjadi simbol kebaikan hati, tempat perlindungan, dan sumber kehidupan. Buah asamnya digunakan sebagai obat tradisional dan bumbu masakan, menambah rasa segar sekaligus menyehatkan tubuh. Dari situlah masyarakat semakin meyakini bahwa pohon ini adalah anugerah yang memberi manfaat bagi siapa saja.

Hingga hari ini, Pohon Asam Dono masih tegap berdiri, menjadi pusat perhatian dan penghormatan warga. Cerita tentang Kyai Lingsang, tentang peperangan, dan tentang kebaikan yang lahir dari tradisi berbagi tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Bagi mereka, setiap buah asam yang jatuh dari dahan bukan hanya sekadar bahan pangan, melainkan juga pesan abadi tentang ketulusan memberi demi kebaikan bersama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.