
Di Desa Sidodadi, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, berdiri sebuah dusun yang dikenal dengan nama Watu Dukun. Nama ini berasal dari sebuah batu besar yang sejak lama dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Batu tersebut diyakini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit. Hingga kini, orang-orang masih percaya bahwa siapa pun yang sakit dan mengadakan selamatan di batu itu akan memperoleh kesembuhan.
Asal-usul Watu Dukun tidak lepas dari kisah seorang tokoh bernama Demang Alap-alap. Ia adalah putra dari Pangeran Benawa, cucu Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, raja besar dari Kerajaan Pajang. Berbeda dengan kebanyakan bangsawan yang gemar pada kemewahan, Demang Alap-alap lebih suka mengembara dan mendalami ibadah. Hidupnya sederhana, namun penuh kebijaksanaan.
Diceritakan bahwa suatu hari, Demang Alap-alap datang dari Bojonegoro sambil membawa sebongkah batu hitam. Batu itu dibungkus dengan kain serbet, seolah benda biasa. Namun ketika ia tiba di sebuah dukuh, batu tersebut ia letakkan dan disembunyikan di sana. Tidak lama setelah itu, Demang Alap-alap wafat dan dimakamkan di Dusun Tagaten, tidak jauh dari tempat batu itu berada. Seiring waktu, makamnya pun dianggap keramat oleh masyarakat.
Batu yang ditinggalkan Demang Alap-alap itulah yang kemudian dikenal sebagai Watu Dukun. Lokasinya berada di bawah sebuah pohon waru yang rindang, memberi kesan teduh sekaligus sakral. Punden Watu Dukun kini dikelilingi pagar bata, meski banyak yang sudah rusak dimakan usia. Catatan lama bahkan menyebutkan pernah ada arca di tempat itu, tetapi kini telah hilang.
Keberadaan pohon waru di sekitar punden memberi makna tersendiri bagi masyarakat. Pohon ini bukan hanya penanda alam yang tumbuh bersama sejarah, melainkan juga sumber kehidupan. Bunga, daun, dan akarnya telah lama digunakan sebagai obat tradisional. Daunnya dipercaya bisa meredakan peradangan, akarnya sering dimanfaatkan untuk mengatasi demam, sementara bunganya digunakan sebagai bahan ramuan kesehatan. Dengan kata lain, pohon waru tidak hanya menjadi saksi bisu legenda Watu Dukun, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Hingga kini, kisah Demang Alap-alap dan Watu Dukun tetap hidup di tengah masyarakat Desa Sidodadi. Batu keramat itu menjadi pengingat akan seorang pengembara saleh yang meninggalkan warisan spiritual, sementara pohon waru yang menaunginya menghadirkan berkah dalam bentuk obat-obatan alami. Legenda dan alam pun berpadu, menyatukan nilai sejarah, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari bagi generasi yang meneruskan cerita ini.