Kisah Punden Gading dan Punden Satreyan

URL Cerital Digital: https://www.pasak.or.id/2023/09/carita-pepundhen-mediyun-menelusuri.html

Di sebuah desa tua bernama Gading, Kecamatan Balerejo, Madiun, tersimpan kisah lama yang nyaris hilang dari ingatan masyarakat. Cerita itu tentang Putri Gading dan Joko Satreyan, dua sejoli yang nasib cintanya berakhir tragis. Kisah mereka kerap disebut mirip dengan dongeng Romeo dan Juliet dari tanah Jawa.

Menurut catatan lama yang ditulis Jan Knebel pada tahun 1905, kedua tokoh itu dimakamkan di satu kawasan yang sama di Desa Gading. Makam mereka tidak memiliki cungkup, hanya dibatasi pagar sederhana dengan semak serut dan rumpun bambu ampel yang tumbuh di sekelilingnya. Sejak saat itu, masyarakat percaya bahwa tempat tersebut memiliki nilai sakral.

Di Desa Gading, kemudian berdiri dua punden yang dipercaya berkaitan dengan kisah cinta tragis ini. Yang pertama adalah Punden Gading, terletak di Dusun Gading. Punden ini dibangun megah dengan pagar dan gapura, menyerupai benteng tanpa atap dengan pintu masuk dari arah barat. Di dalamnya terdapat makam yang diyakini sebagai peristirahatan terakhir Putri Gading. Di area punden ini tumbuh pohon asam dan bambu ampel yang rindang, seakan menjadi penjaga abadi.

Punden kedua berada di pemakaman umum Dusun Satreyan. Punden ini dipercaya sebagai makam Joko Satreyan. Bentuknya serupa dengan Punden Gading, dan di dalamnya ditemukan artefak berupa batu lesung. Pohon asam dan bambu ampel juga tumbuh di area ini, menambah kesan angker sekaligus khidmat bagi mereka yang berziarah.

Dari keberadaan punden-punden itu, masyarakat tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga memperoleh manfaat dari tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Salah satunya adalah tanaman serut. Daun serut telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional, terutama untuk menjaga kesehatan gigi. Ekstrak daun serut dipercaya mampu mencegah karies, sehingga masyarakat setempat kerap memanfaatkannya sebagai bahan alami untuk merawat kesehatan mulut.

Selain itu, pohon asam yang tumbuh di sekitar punden juga memberi manfaat besar. Buah asam sering digunakan dalam masakan sehari-hari untuk memberikan rasa segar dan asam yang khas, sekaligus bermanfaat bagi pencernaan. Kehadiran pohon-pohon ini menjadikan kawasan punden bukan hanya tempat penuh nilai sejarah, melainkan juga sumber kehidupan yang berguna bagi warga sekitar.

Hingga kini, Punden Gading dan Punden Satreyan masih berdiri sebagai penanda cinta abadi yang kandas di tengah jalan. Kedua tempat ini mengajarkan bahwa meski cinta bisa berakhir dengan duka, warisan alam yang tumbuh di sekitarnya dapat membawa kehidupan baru bagi generasi berikutnya. Semak serut dan pohon asam tetap setia menjaga makam para tokoh, sekaligus memberi berkah bagi masyarakat desa.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.