
Di sebuah desa tua bernama Gading, dahulu kala hidup dua orang pemimpin desa yang masih bersaudara. Yang lebih tua bernama Bahgede Gading, sedangkan adiknya adalah Bahgede Banyak Pancang. Dari Bahgede Gading lahirlah seorang putri jelita bernama Putri Gading. Wajahnya begitu memesona, tutur katanya lembut, dan senyumnya mampu membuat siapa pun terpikat. Sementara itu, Bahgede Banyak Pancang memiliki seorang putra gagah bernama Raden Joko Menak Satreyan.
Seiring berjalannya waktu, Raden Joko Satreyan mulai menaruh hati pada sepupunya sendiri, Putri Gading. Namun, cinta itu terlarang karena ikatan darah yang menghubungkan mereka. Meski demikian, rasa ingin memiliki Putri Gading membakar hati Joko Satreyan. Ia menggunakan berbagai cara untuk mendekatinya, bahkan mengirim burung ke kamar Putri Gading agar dapat mengatur pertemuan diam-diam.
Pertemuan rahasia itu akhirnya terbongkar. Bahgede Gading, ayah sang putri, murka ketika mengetahui hubungan terlarang antara putrinya dan Joko Satreyan. Dalam amarahnya, ia menghunus senjata dan membunuh keponakannya sendiri. Putri Gading yang sudah terlanjur jatuh cinta tidak kuasa menerima kenyataan itu. Dengan pedih, ia menikam dirinya sendiri hingga tewas, sebagai bentuk kesetiaan kepada Joko Satreyan.
Tragedi itu membuat hubungan dua saudara, Bahgede Gading dan Bahgede Banyak Pancang, diliputi ketegangan. Namun pada akhirnya, mereka berdamai dan sepakat untuk menyatukan jenazah kedua anaknya dalam satu tempat peristirahatan. Pada pusara itu, ditancapkan pancang bambu yang kemudian tumbuh menjadi pohon bambu ampel. Sejak saat itu, makam Putri Gading dan Joko Satreyan dihormati sebagai punden desa.
Dari bambu ampel inilah masyarakat Gading mengenal manfaat rebungnya. Rebung yang tumbuh dari bambu ampel kerap dijadikan sayuran dalam masakan sehari-hari, memberikan rasa gurih dan lembut yang menyehatkan. Lebih dari itu, air rebusan rebung bambu kuning dipercaya dapat membantu menyembuhkan penyakit hepatitis. Dengan demikian, pohon bambu tidak hanya menjadi penanda kisah cinta tragis, tetapi juga membawa keberkahan bagi kehidupan masyarakat.
Hingga kini, masyarakat Desa Gading masih menjaga kisah itu melalui tradisi bersih desa di punden. Selain itu, berkembang pula mitos yang melarang pernikahan antara warga Dusun Gading dan Dusun Satreyan. Konon, siapa pun yang melanggar pantangan itu tidak akan memiliki rumah tangga yang langgeng.
Cerita tentang Putri Gading dan Joko Satreyan bukan hanya menyimpan nilai sejarah dan moral, tetapi juga mengingatkan kita bahwa dari duka yang mendalam dapat lahir sesuatu yang bermanfaat. Pohon bambu ampel menjadi saksi abadi, memberi pangan sekaligus obat, seakan menyalurkan kehidupan baru dari kisah cinta yang berakhir dalam kesedihan.