
Di sebuah desa bernama Kandangan, Kabupaten Madiun, terdapat sebuah makam yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai peristirahatan terakhir Ki Ageng Bonosoro. Sosok ini dikenal sebagai pembuka wilayah dusun Kandangan, seorang tokoh yang namanya masih terpatri dalam ingatan masyarakat meskipun kisahnya telah berlapis-lapis ditutupi waktu.
Cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa Ki Ageng Bonosoro pernah mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Ia bertarung dengan gagah berani, namun akhirnya tertembak. Tubuhnya yang penuh luka berjalan tertatih hingga akhirnya roboh dan meninggal di tempat yang kini dijadikan makam keramat. Dari kisah inilah, masyarakat desa menaruh hormat padanya, dan makam tersebut hingga kini masih sering menjadi pusat doa bersama serta upacara bersih desa.
Namun ada kisah lain yang dicatat oleh Knebel pada tahun 1905. Ia menuliskan bahwa Ki Ageng Bonosoro, yang juga dikenal dengan nama Kyai Banasari, memiliki hubungan dengan Kerajaan Gelang di Ngurawan. Pada masa kejayaan kerajaan itu, ia dipercaya menjaga hewan-hewan peliharaan Pangeran Gelang. Hewan-hewan yang dijaganya bukan sembarang hewan, melainkan banteng, rusa, dan kidang. Hewan-hewan ini tidak hanya melambangkan kebesaran kerajaan, tetapi juga menjadi sumber pangan penting. Dagingnya dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi, sementara keberadaannya menegaskan hubungan erat antara manusia, alam, dan kekuasaan pada masa lalu.
Setelah Kerajaan Gelang runtuh, Kyai Banasari memilih tetap tinggal di daerah tempat ia bertugas. Tanah itu kemudian dinamakan Kandangan, yang konon berasal dari adanya kandang kuda milik kerajaan yang dulunya berdiri di tempat yang kini menjadi lapangan desa. Nama itu abadi hingga sekarang, menyimpan jejak sejarah sekaligus legenda yang melingkupinya.
Selain kisah tentang perlawanan dan pengabdiannya, makam Ki Ageng Bonosoro juga menyimpan mitos yang dahulu begitu diyakini masyarakat. Konon, siapa saja yang sakit dapat sembuh jika mengambil lumut dari batu nisannya untuk dijadikan obat. Setelah berdoa, biasanya orang akan mengoleskan boreh, sejenis ramuan rempah, pada nisan sebagai tanda penunaian nazar. Bahkan dipercaya, lumut dari makam itu juga bisa menyembuhkan penyakit hewan ternak. Ada keyakinan pula, jika anak lembu menjilati makam tersebut, maka lembu jantan akan tumbuh menjadi hewan yang bernilai tinggi, sementara lembu betina akan menjadi indukan yang baik.
Meski mitos ini kini sudah mulai hilang dari ingatan masyarakat Dusun Kandangan, makam Ki Ageng Bonosoro tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial budaya mereka. Setiap tahun masyarakat berkumpul di sana untuk memanjatkan doa keselamatan serta melakukan ritual bersih desa.
Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa pangan dan kehidupan masyarakat Jawa di masa lalu tidak bisa dipisahkan dari alam dan hewan yang mereka rawat. Daging banteng, rusa, dan kidang yang dulu berada dalam pengawasan Ki Ageng Bonosoro bukan hanya sumber makanan, tetapi juga simbol kesejahteraan, kekuasaan, dan keterhubungan antara manusia dengan lingkungannya.