
Di Dukuh Waru, Desa Bolo, Madiun, terdapat sebuah makam tua yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan sang pembawa payung atau songsong Sunan Giri. Makam itu sunyi, tetapi menyimpan kisah yang jarang didengar orang, sebuah cerita yang berawal dari perjalanan seorang wali besar beserta para pengikutnya.
Konon, Sunan Giri bersama rombongannya melakukan perjalanan menuju Desa Ngukir atau Ngranget untuk mencari kayu jenar. Kayu ini dikenal berkualitas dan biasa digunakan sebagai bahan gagang keris. Setelah kayu jenar berhasil didapat, seorang tukang mulai mengerjakannya. Namun, sebuah kejadian tak terduga menimpa. Alat pengukir yang digunakan terlepas dan menusuk tangan sang tukang. Darah mengalir deras hingga ia tak tertolong. Atas perintah Sunan Giri, darah itu dikuburkan dengan penuh penghormatan.
Untuk menjaga kesakralannya, Sunan Giri meminta para pengikutnya mendirikan cungkup di atas kuburan darah tersebut. Selama empat puluh hari mereka tinggal di sana, membuat bata dan atap sirap untuk membangun tempat itu. Setelah masa itu selesai, barulah rombongan melanjutkan perjalanan pulang.
Ketika singgah sejenak di Gunung Mijil, salah satu pengikut setia, yakni sang pembawa payung, jatuh sakit. Meski keadaannya lemah, ia tetap berusaha berjalan bersama rombongan. Sesampainya di Dukuh Waru, tubuhnya tidak lagi kuat menahan sakit. Di sanalah ia menghembuskan napas terakhir dan dimakamkan. Sebagai penanda, masyarakat menanam pohon nogosari di sisi utara dan selatan makam. Seiring waktu, pohon itu tumbuh lebat, melingkupi makam dalam suasana teduh.
Cerita tentang pembawa payung Sunan Giri memang tidak banyak dikenal, namun ada peninggalan lain yang membuatnya tetap lekat dalam ingatan masyarakat, yaitu pohon jenar atau kemuning. Tanaman ini tidak hanya dikenal karena kayunya yang keras dan berfungsi untuk gagang keris, tetapi juga memiliki manfaat dalam bidang kesehatan. Daun dan akar kemuning dipercaya dapat digunakan sebagai obat, seperti mengatasi radang dan diare.
Kehadiran tanaman jenar atau kemuning dalam kisah ini menunjukkan betapa erat hubungan manusia dengan alam di masa lalu. Kayunya digunakan untuk keperluan penting, sementara bagian lain dari pohon itu dimanfaatkan sebagai sumber obat. Bagi masyarakat Jawa, alam selalu memberi pelajaran bahwa setiap tumbuhan menyimpan manfaat. Di sekitar makam pembawa payung Sunan Giri, keyakinan akan nilai-nilai itu masih bertahan, meski hanya tersisa dalam cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut.
Kini, makam tersebut berdiri sebagai pengingat tentang kesetiaan seorang pengikut yang rela mengabdikan hidupnya hingga akhir perjalanan, serta tentang pohon jenar yang menyimpan khasiat sebagai sumber obat tradisional. Dari kisah ini, kita dapat melihat bahwa warisan leluhur bukan hanya berupa kisah spiritual, tetapi juga pengetahuan tentang pangan dan obat yang diwariskan melalui alam.