Mbah Kyai Wala

URL Cerital Digital: https://www.pasak.or.id/2023/09/carita-pepundhen-mediyun-menelusuri.html

Di Dusun Gentongan, Desa Putat, Kecamatan Geger, Madiun, terdapat sebuah punden yang hingga kini tetap dikeramatkan masyarakat. Tempat itu dikenal dengan nama Sentono Gentongan. Letaknya berada di area pemakaman umum, dipagari pipa tanpa pintu masuk, seakan menyembunyikan kisah yang masih hidup dalam ingatan warga setempat.

Di dalam punden tersebut terdapat lima makam yang bentuknya sederhana, berupa tumpukan bata dengan susunan melingkar tidak beraturan. Salah satu makam yang berukuran besar dipercaya sebagai peristirahatan terakhir Mbah Ronggodipuro atau Kyai Onggodipura, tokoh penting yang menjadi bagian dari cerita Gentongan.

Kisah lama menyebutkan bahwa dahulu Gentongan merupakan sebuah kabupaten kecil yang berada di selatan Sungai Catur, tepat di barat istana Kranggan, kediaman Raden Ronggo Prawirodirjo I yang menjabat sebagai Bupati Wanasari antara tahun 1755 hingga 1784. Masyarakat mengenang adanya konflik antara Bupati Gentongan dan Bupati Wanasari. Dalam pertempuran itu, patih Gentongan gugur, sementara Bupati Gentongan akhirnya kalah dan terpaksa bersembunyi di sungai.

Menariknya, sejarah lisan juga mencatat bahwa salah satu dari 19 anak Raden Ronggo Prawirodirjo I menikah dengan Bupati Gentongan. Ia dikenal sebagai Raden Ayu Joyodipuro. Hubungan keluarga yang rumit ini memperlihatkan bahwa peristiwa di Gentongan bukan sekadar peperangan, tetapi juga kisah tentang politik, kekuasaan, dan ikatan darah.

Dari cerita inilah muncul kaitan dengan Sungai Bujet yang kini dikenal dengan sebutan Sungai Bujel. Sungai kecil itu mengalir ke utara dan bermuara ke Sungai Madiun, tepat di dekat muara Sungai Catur. Sungai Catur sendiri menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, sebab airnya digunakan untuk mengairi sawah. Irigasi dari sungai ini memastikan tanaman padi tumbuh dengan baik, menghasilkan panen yang menjadi sumber pangan utama masyarakat.

Cerita tentang Sentono Gentongan mengingatkan bahwa sungai bukan hanya sekadar aliran air, tetapi juga penyambung kehidupan. Dari Sungai Catur, masyarakat mendapatkan air untuk sawah, sementara dari sejarah Gentongan mereka mewarisi cerita tentang perjuangan, konflik, dan ikatan keluarga bangsawan Jawa. Hingga kini, punden Sentono Gentongan tetap dijaga dengan tradisi dan doa, menjadi pengingat bahwa air dan pangan tidak bisa dilepaskan dari jejak sejarah yang membentuk kehidupan suatu daerah.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.