
Di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Bader, Madiun, tersimpan kisah panjang tentang asal-usul desa yang berawal dari perjalanan seorang panglima perang. Dialah Ki Djajengkoro, seorang senopati dari Kesultanan Pajang. Sejarah mencatat, sekitar tahun 1582, Pajang mengalami kekalahan besar ketika Gunung Merapi meletus. Letusan dahsyat itu menghantam perkemahan pasukan Pajang di sisi barat Kali Opak, membuat barisan mereka tercerai-berai. Saat pasukan masih kacau, datanglah serangan dari Sutowijoyo dan bala tentaranya dari Mataram. Pertempuran yang tidak seimbang itu berakhir dengan kekalahan Pajang, hingga akhirnya sang Sultan wafat pada tahun yang sama.
Di tengah kekecewaan atas kekalahan itu, Ki Djajengkoro memilih meninggalkan tanah Pajang. Ia berjalan jauh ke timur, menyusuri hutan dan sungai, hingga akhirnya tiba di sebuah kawasan yang subur. Tempat itu kemudian menjadi tanah baru baginya dan sisa-sisa pasukan yang setia menemaninya. Di sanalah ia memimpin babat alas, membuka lahan untuk membangun pemukiman baru.
Ketika hutan mulai dibuka, mereka menemukan sungai yang penuh dengan ikan kecil berwarna keperakan. Ikan itu dikenal sebagai ikan bader, atau yang kini kita sebut ikan tawes. Jumlahnya melimpah, berenang di antara aliran jernih yang menyejukkan. Kehadiran ikan tawes bukan hanya sekadar sumber pangan, tetapi juga menjadi penopang hidup bagi para pendatang baru yang memulai kehidupan dari nol.
Ikan tawes memiliki kandungan gizi yang sangat bermanfaat, kaya akan protein, fosfor, dan asam lemak omega-3. Masyarakat yang baru menetap di kawasan itu mengandalkan ikan tawes untuk memperkuat tubuh setelah perjalanan panjang dan kerja keras membangun desa. Dari hari ke hari, ikan tawes menjadi bagian penting dari kehidupan mereka, baik sebagai santapan harian maupun sebagai simbol keberlimpahan alam.
Karena itulah, ketika pemukiman baru itu hendak diberi nama, Ki Djajengkoro menyebutnya “Bader”, mengambil nama dari ikan yang menjadi saksi awal berdirinya desa. Nama itu sekaligus menegaskan ikatan erat antara manusia dan sumber pangan yang menjaga keberlangsungan hidup mereka. Hingga kini, masyarakat Desa Bader masih mengenang bahwa desa mereka tidak hanya lahir dari kisah seorang panglima yang mengembara, tetapi juga dari keberlimpahan ikan tawes yang memberi harapan baru.
Dengan begitu, Desa Bader bukan sekadar sebuah nama. Ia adalah jejak sejarah, pengingat tentang keteguhan seorang panglima, serta bukti bahwa pangan dan alam selalu hadir sebagai penopang kehidupan manusia sejak dahulu kala.