
Di Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, terdapat sebuah punden yang hingga kini masih disakralkan masyarakat. Tempat itu dikenal dengan nama Punden Mruwak, dipercaya sebagai makam seorang utusan dari Kerajaan Majapahit yang sekaligus merupakan murid Batara Katong dari Ponorogo. Konon, sang murid diutus untuk menjaga serta membuka hutan Desa Mruwak agar menjadi tempat hunian. Sejak saat itu, wilayah ini berkembang menjadi desa yang ramai, sekaligus menyimpan jejak sejarah panjang.
Menurut catatan lama yang ditulis Knebel pada tahun 1905, Punden Mruwak juga diyakini sebagai tempat persinggahan Raden Setramiruda setelah sebelumnya berada di Gedong Sukun, Joho. Dari kisah itu, Punden Mruwak tidak hanya dipandang sebagai makam keramat, tetapi juga menjadi titik penting perjalanan tokoh-tokoh besar yang mewarnai legenda Madiun.
Masyarakat sekitar masih memanfaatkan punden ini sebagai tempat pelaksanaan ritual adat. Bersih desa, menyepi, dan selamatan sebelum hajatan besar sering kali dilakukan di sini. Semua kegiatan itu merupakan bentuk penghormatan pada leluhur dan penjaga desa.
Selain dikenal dengan punden keramatnya, Desa Mruwak juga menyimpan peninggalan sejarah berupa prasasti kuno bertahun 1108 Saka, yang menjadi bukti bahwa wilayah ini sudah lama dihuni manusia. Prasasti itu kini berada di area pemakaman umum desa, berbeda dengan Punden Mruwak yang berjarak sekitar 250 meter ke barat. Lokasi punden sendiri berada di belakang rumah warga bernama Bapak Priyanto, di tengah hamparan tambak, persawahan, dan perkampungan penduduk.
Di sekeliling punden tumbuh pohon-pohon besar seperti sukun, joho, dan mrangen. Pohon sukun memberikan buah yang menjadi sumber pangan bagi masyarakat. Buahnya dapat dimasak dengan berbagai cara, dari direbus, digoreng, hingga diolah menjadi penganan yang mengenyangkan. Pohon joho dan mrangen pun bermanfaat, terutama kayunya yang digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari peralatan, mebel, hingga kayu bakar.
Selain itu, keberadaan tambak di sekitar Punden Mruwak menjadikan desa ini memiliki sumber pangan lain berupa ikan. Hasil tambak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, menambah gizi masyarakat sekaligus menjadi bagian dari ekonomi desa. Perpaduan antara hasil bumi dan hasil perairan ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan masyarakat dengan alam sekitar.
Punden Mruwak sendiri berupa dua nisan batu berbentuk trapesium yang dipercaya sebagai penanda makam. Menurut cerita warga, batu tersebut dulunya merupakan bagian dari batu yang lebih besar berbentuk seperti gunungan wayang, dengan pahatan tulisan yang kini sudah hilang atau terpendam entah di mana. Hal ini menambah aura misterius Punden Mruwak, menjadikannya bukan hanya tempat peristirahatan leluhur, tetapi juga simbol warisan sejarah yang menyatu dengan alam.
Hingga sekarang, Punden Mruwak tetap dijaga, dikeramatkan, dan dimanfaatkan sebagai pusat ritual serta sumber inspirasi kehidupan. Buah sukun yang tumbuh di sekitarnya, kayu dari pohon joho dan mrangen, serta ikan hasil tambak yang mengelilinginya menjadi bukti bahwa alam di sekitar punden bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga sumber pangan yang memberi kehidupan nyata bagi masyarakat Mruwak.