
Di Madiun, mengalir sebuah sungai yang tidak hanya memberi kehidupan, tetapi juga menyimpan jejak kisah lama. Sungai Batil dikenal sebagai tempat di mana berbagai jenis ikan dan tumbuhan tumbuh subur, menjadi sumber pangan dan penopang hidup masyarakat sekitar. Namun, di balik kesejukan airnya, tersimpan cerita panjang yang berhubungan dengan kerajaan, peperangan, dan kutukan.
Alkisah, di sebuah sendang hiduplah makhluk aneh berupa cacing berkepala manusia. Ia kerap muncul ke permukaan, seolah ingin melihat dunia di luar air. Suatu hari, Sunan Kalijaga melewati tempat itu untuk berwudu. Saat itulah beliau melihat makhluk tersebut menangis. Cacing berkepala manusia itu mengungkapkan keinginannya untuk menjadi manusia seutuhnya.
Sunan Kalijaga kemudian berdoa, dan dengan izin Tuhan, cacing itu menjelma menjadi seorang putri. Ia diberi nama Irawan dan ditetapkan untuk menempati sebuah keraton kosong bernama Gegelang. Namun, ada syarat yang harus ia patuhi. Jika kelak ada dua orang kembar melamarnya, ia harus memilih salah satunya, sementara yang lain dijadikan patih.
Putri Irawan kemudian berkuasa di Keraton Gegelang. Tidak lama berselang, datanglah dua pangeran kembar dari Demak, putra Sultan Trenggono, yaitu Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Ngalam. Keduanya hendak melamar sang putri. Namun, Putri Irawan menolak kedua lamaran itu. Merasa dipermalukan, kedua pangeran itu memilih mengakhiri hidup mereka di sebuah tempat yang kemudian dinamakan Gedong.
Sultan Trenggono yang tidak mendapat kabar dari putra-putranya pun mengutus Patih Tambak Boyo untuk mencari mereka. Patih itu diperintahkan agar tidak kembali sebelum berhasil menemukan kedua pangeran. Saat tiba di Keraton Gegelang, ia hanya mendapati kenyataan pahit bahwa keduanya telah meninggal.
Di saat bersamaan, datang pula rombongan dari Kediri yang dipimpin Setra Wijaya untuk melamar sang putri. Hal ini membuat Patih Tambak Boyo murka. Pertempuran sengit pun pecah antara dirinya dan Setra Wijaya. Perang itu berlangsung panjang, hingga banyak desa di Madiun mendapat nama dari peristiwa tersebut. Desa Klepek, Dolopo, Batil, Tempuran, Norame, Punjul, Pikatan, Bulu Sampir, Jeblok, Krandengan, Ngendut, Gadang Pingkuk, dan Cempo adalah beberapa di antaranya.
Di Desa Cempo, Setra Wijaya dikisahkan menghilang tanpa jejak. Patih Tambak Boyo kemudian melanjutkan perjalanan, dan ketika melewati Desa Gedong, ia menemukan jasad kedua putra rajanya. Dari sana ia kembali ke Keraton Gegelang.
Sesampainya di sana, ia mengucapkan sebuah sabda yang berbunyi “Sing sopo ala lakune buntua dalane,” yang berarti barang siapa berperilaku buruk maka segala usahanya akan gagal. Sejak saat itu, Patih Tambak Boyo dikenal dengan sebutan Ki Ageng Tambak Buntu.
Sungai Batil, yang menjadi bagian dari kisah peperangan itu, terus mengalir hingga kini. Bagi masyarakat sekitar, sungai ini bukan hanya tempat yang menyimpan kenangan sejarah, tetapi juga sumber pangan yang tak ternilai. Ikan yang hidup di dalamnya dan tumbuhan di sepanjang alirannya memberi manfaat besar bagi kehidupan. Sungai Batil menjadi simbol keterhubungan antara alam, manusia, dan kisah masa lalu yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.