
Di sebuah dusun bernama Mranggen, Desa Joho, Kecamatan Dagangan, Madiun, terdapat sebuah punden tua yang masih disakralkan masyarakat hingga kini. Tempat itu dikenal sebagai Mbah Punden Sukun, sebuah situs yang dipercaya menyimpan jejak masa lalu dan menjadi bagian penting dari sejarah rakyat setempat.
Konon, punden ini merupakan tempat peristirahatan terakhir Raden Setramiruda, seorang pangeran dari Kerajaan Gegelang. Alkisah, Raden Setramiruda pernah melarikan diri ke daerah itu karena hendak menculik seorang putri bernama Putri Cempa. Namun, niatnya gagal setelah ia terkena tusukan keris dalam sebuah peristiwa yang tidak banyak diceritakan. Ia melarikan diri ke hutan, hingga akhirnya berakhir di sebuah tempat yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Gedong Sukun. Di situlah ia meninggalkan jejak yang kelak dikenang dengan nama Mbah Punden Sukun.
Punden ini berupa makam kuno yang dikelilingi pagar bata tua, menjadikannya tampak sakral sekaligus misterius. Di sekitarnya tumbuh pepohonan besar yang memberi keteduhan. Ada pohon joho, pohon jati, dan juga pohon sukun. Keberadaan pohon-pohon ini tidak hanya memberi nuansa keramat pada tempat tersebut, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Pohon sukun dikenal dengan buahnya yang unik. Berbeda dengan durian atau jambu, buah sukun memiliki bentuk bulat dengan kulit berduri halus. Daging buahnya empuk, sering diolah menjadi berbagai panganan tradisional, mulai dari direbus, digoreng, hingga dijadikan keripik. Kehadirannya memberi sumber pangan penting yang bisa dinikmati oleh keluarga desa.
Selain sukun, di sekitar punden juga tumbuh pohon joho dan jati. Pohon joho, meskipun jarang disebut dalam kisah-kisah besar, tetap dimanfaatkan oleh warga, terutama bagian kayunya. Adapun pohon jati sudah lama dikenal bernilai tinggi. Kayu jati digunakan sebagai bahan utama pembuatan mebel, rumah, maupun kayu bakar. Dengan demikian, ketiga jenis pohon yang tumbuh di sekitar Mbah Punden Sukun memperlihatkan hubungan erat antara alam, kebutuhan hidup, dan warisan budaya.
Hingga hari ini, masyarakat masih menghormati Mbah Punden Sukun sebagai tempat petilasan yang keramat. Setiap orang yang datang bukan hanya menyaksikan makam tua yang dikelilingi pagar bata, tetapi juga merasakan nuansa alami dari pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya. Kisah Raden Setramiruda yang berakhir di tempat itu tetap hidup dalam ingatan kolektif, seakan menjadi peringatan bahwa setiap tindakan manusia akan meninggalkan jejak yang abadi.
Lebih dari sekadar kisah masa lalu, Mbah Punden Sukun menghadirkan ajaran tentang hubungan manusia dengan alam. Pohon sukun, joho, dan jati yang ada di sana menjadi simbol keseimbangan antara kebutuhan pangan, sumber daya, dan penghormatan pada leluhur. Dari buah sukun yang mengenyangkan hingga kayu jati yang kokoh, semuanya menunjukkan bahwa alam menyediakan kehidupan yang harus dijaga dan disyukuri.