Di sebuah sudut Jawa Timur, tepatnya di Dusun Sumber Armi yang berada di blok Kolor, hiduplah sebuah kisah lama yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah ini bermula dari sebuah sumber air alami yang jernih, memancar dari perut bumi, seolah menjadi anugerah bagi masyarakat sekitar. Mata air itu bukan hanya sekadar tempat untuk mengambil kebutuhan sehari-hari, melainkan juga menjadi rumah bagi banyak ikan lele. Karena itulah, masyarakat setempat menyebutnya sebagai sumber yang penuh dengan lele.
Ikan lele pada masa itu bukan sekadar hewan air biasa. Kehadirannya dianggap membawa berkah karena mampu menjadi penopang kehidupan. Dagingnya yang gurih dan kaya protein memberi tenaga bagi para petani dan pejuang, sementara keberadaannya yang melimpah menandakan kesuburan tanah serta kekayaan alam yang dimiliki desa tersebut. Maka tak heran jika sumber air itu lambat laun menjadi pusat kehidupan. Penduduk mulai berdatangan, membuka lahan, dan membangun rumah di sekitar sumber yang dipenuhi ikan lele. Dusun itu pun semakin ramai, layaknya sebuah oasis kecil di tengah perjuangan hidup.
Namun, masa damai itu tidak berlangsung lama. Pada masa penjajahan Belanda, daerah tersebut menjadi tempat persembunyian para pejuang. Heningnya sumber air dan lebatnya pepohonan membuatnya aman untuk bersembunyi. Sayangnya, penjajah akhirnya menemukan lokasi itu. Mereka menyadari betapa pentingnya sumber air tersebut bagi rakyat, baik sebagai tempat perlindungan maupun sebagai sumber pangan. Untuk melemahkan semangat perlawanan, Belanda menutup aliran air itu. Bersamaan dengan itu, ikan-ikan lele yang selama ini menjadi penopang kehidupan pun ikut lenyap.
Walaupun sumber air telah tertutup dan ikan lele tak lagi bisa ditemukan, sebutan masyarakat terhadap tempat itu tidak pernah hilang. Nama “sumber lele” tetap terucap dari mulut ke mulut. Dari orang tua kepada anak, dari kakek nenek kepada cucu, nama itu menjadi bagian dari identitas desa. Waktu terus berjalan, logat dan kosakata pun mengalami perubahan, hingga akhirnya sebutan itu menyatu dalam satu nama yang kita kenal hingga sekarang: Sumberlele.
Kini, meskipun sumber asli itu telah tiada, cerita tentang asal-usul nama Sumberlele tetap hidup. Kisah ini menjadi pengingat bahwa pangan, sekecil apa pun bentuknya seperti ikan lele, memiliki peran besar dalam sejarah sebuah daerah. Ikan lele yang sederhana bukan hanya menjadi lauk pengganjal perut, tetapi juga menjadi simbol ketahanan masyarakat dalam menghadapi masa sulit. Hingga hari ini, nama Sumberlele menjadi bukti bahwa pangan selalu erat kaitannya dengan kehidupan, perjuangan, dan kenangan kolektif sebuah komunitas.