Batik Manggur

URL Cerital Digital: https://indonesia627.wordpress.com/seputar-kota-probolinggo/budaya-kota-probolinggo/

Di Kota Probolinggo, pangan bukan hanya hadir dalam wujud yang bisa dinikmati di meja makan. Ada kisah menarik ketika buah-buahan yang tumbuh subur di tanah pesisir ini menjelma menjadi simbol budaya yang abadi. Buah mangga dan anggur, dua hasil bumi yang sejak lama menjadi kebanggaan masyarakat, melahirkan sebuah corak batik khas yang disebut Batik Manggur.

Cerita tentang Batik Manggur sudah tercatat sejak abad ke-19. Pada tahun 1883, dunia internasional pertama kali mengenal karya batik Probolinggo melalui sebuah pameran di Amsterdam, Belanda. Saat itu, sebanyak 150 motif batik dipamerkan, menandai awal mula perjalanan panjang Batik Manggur. Sejak saat itulah, kain indah dengan motif mangga dan anggur mulai dikenal sebagai identitas seni tekstil dari Kota Probolinggo.

Motif Batik Manggur begitu unik karena memadukan nuansa alam dengan identitas pangan daerah. Buah mangga dilukiskan dalam warna hijau yang segar, melambangkan kesuburan dan harapan. Buah anggur digambarkan dalam ungu keemasan, menghadirkan kesan kemakmuran dan manisnya hasil bumi Probolinggo. Dari dua buah ini lahirlah istilah Bayuangga, singkatan dari Bayu, Angin, Anggur, dan Mangga, yang menjadi lambang kota sekaligus cermin kekayaan alamnya.

Pembuatan batik khas Probolinggo tidak bisa dilakukan sembarangan. Prosesnya mengikuti tradisi batik tulis yang penuh ketelatenan. Mula-mula pengrajin menggambar pola pada kain, kemudian melapisinya dengan malam untuk menjaga bagian tertentu tetap putih. Setelah itu, kain dicelupkan dalam pewarna alami. Hijau untuk motif mangga, ungu untuk anggur, dan warna lain yang menggambarkan bayu serta angin. Proses ini disempurnakan dengan perebusan dan pencucian hangat, hingga akhirnya lahirlah selembar kain batik yang sarat makna.

Batik Manggur bukan sekadar pakaian. Ia adalah cermin dari kehidupan masyarakat Probolinggo yang hidup berdampingan dengan alam. Buah mangga dan anggur yang menjadi sumber pangan kini hadir sebagai identitas kultural, menyatukan fungsi ekonomi, estetika, sekaligus spiritual. Dengan mengenakan Batik Manggur, masyarakat seolah sedang merayakan hasil bumi mereka, sembari menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.

Hari ini, Batik Manggur terus berkembang dan didorong oleh Pemerintah Kota Probolinggo sebagai ikon daerah. Ia menjadi simbol kebanggaan, bukan hanya karena keindahan coraknya, tetapi juga karena cerita di baliknya. Cerita tentang pangan yang berubah menjadi budaya, dan tentang buah yang melahirkan karya seni.

Di setiap goresan batik Manggur, kita tidak hanya melihat pola anggur dan mangga, melainkan juga melihat identitas sebuah kota yang tumbuh dari alamnya. Probolinggo bukan sekadar kota di pesisir Jawa Timur, tetapi tanah yang mampu menjadikan pangan sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.