Di tanah subur Bojonegoro, Jawa Timur, berdirilah sebuah desa yang namanya erat dengan sebuah pohon yang sederhana tetapi sarat makna. Desa itu bernama Turigede. Jika ditelusuri asal-usul katanya, turi berarti pohon turi dan gede berarti besar. Maka Turigede dapat diartikan sebagai tempat pohon turi yang besar, sebuah penanda bahwa keberadaan tanaman ini begitu penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Konon pada masa lalu, di wilayah yang kini menjadi Desa Turigede, tumbuhlah pohon turi yang ukurannya luar biasa besar. Pohon itu bukan sekadar peneduh di tengah hamparan sawah dan ladang, melainkan juga simbol kehidupan. Dari pohon turi, masyarakat mendapat makanan, obat, hingga pengharapan. Bunga turi yang lembut berwarna putih dan merah kerap dipetik untuk dijadikan sayur atau lalapan segar. Aroma dan rasanya khas, berpadu sempurna dengan masakan desa yang sederhana. Daunnya pun tidak kalah berharga, sering diolah menjadi sayur asem, urap, bahkan campuran peyek yang renyah. Tidak berhenti di situ, biji turi juga memiliki potensi besar sebagai sumber serat dan nutrisi bagi tubuh.
Masyarakat percaya bahwa keberadaan pohon turi adalah berkah yang harus dirawat. Maka ketika desa mulai terbentuk, mereka menamainya Turigede sebagai pengingat bahwa pohon turi pernah memberi kehidupan dan tetap memberi manfaat hingga kini.
Namun, Turigede tidak hanya dikenal karena pohonnya. Desa ini juga terkenal dengan kearifan lokalnya yang penuh makna. Setiap tahun, pada musim kemarau tepat di hari Minggu Kliwon, masyarakat mengadakan sebuah tradisi yang disebut nyadran atau sedekah bumi. Upacara ini berlangsung di Sumur Turi, sebuah tempat yang dipercaya memiliki ikatan erat dengan sejarah desa.
Dalam nyadran, masyarakat berkumpul, membawa hasil bumi, dan berdoa bersama sebagai ungkapan syukur atas panen serta kehidupan yang dianugerahkan. Setelah doa, dilanjutkan dengan hiburan desa yang sarat nuansa budaya. Para sindir menembang dengan suara merdu, gamelan ditabuh mengiringi tarian tayub, sebuah kesenian rakyat yang konon sangat disukai oleh Mbah Danyang, tokoh leluhur penjaga desa. Meski demikian, masyarakat Turigede tidak menganggap nyadran sebagai keyakinan spiritual, melainkan sebagai wujud budaya dan hiburan yang mempererat kebersamaan.
Kini, meski zaman terus berubah, Desa Turigede tetap teguh menjaga identitasnya. Masjid yang megah berdiri di pusat desa, mushola tersebar di setiap RT, dan kehidupan beragama tetap terjaga dengan khidmat. Tradisi dan agama berjalan beriringan tanpa saling bertentangan. Nyadran dianggap sebagai bagian dari warisan budaya yang menghargai leluhur, sementara Islam menjadi pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah Desa Turigede adalah cerminan bagaimana sebuah tanaman pangan mampu mengakar dalam sejarah, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Tanaman turi tidak hanya memberi manfaat bagi tubuh, tetapi juga menyatukan warga dalam kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari pohon turi yang besar, lahirlah nama desa, lahirlah tradisi, dan lahirlah kisah tentang kebersamaan yang hingga kini masih hidup di hati masyarakat Turigede.