Di kaki tebing yang tinggi dan rimbun, mengalir air jernih yang tak pernah berhenti menetes. Tempat itu dikenal sebagai Dusun Tretes, bagian dari Desa Kedung Sumber. Nama Tretes lahir dari bunyi air yang terus menetes dari sela-sela tebing menuju pemukiman di bawahnya. Air itu tidak hanya menjadi pelepas dahaga, tetapi juga dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan. Hingga kini, masyarakat masih mengingat betul bahwa sumber air di Tretes adalah anugerah yang menjadikan wilayah mereka subur dan layak huni.Namun, kisah tentang Desa Kedung Sumber tidak berhenti pada sumber air saja. Dalam cerita tutur para sesepuh, ada dua tokoh yang menjadi awal mula terbentuknya desa, yaitu Mbah Johtaruno dan Mbah Bores. Keduanya memutuskan untuk berpisah mencari tempat tinggal. Mbah Bores memilih berhenti di sebuah hutan lebat yang kemudian ia babat seorang diri. Dari hutan itu, lahirlah pemukiman baru yang kini dikenal sebagai Dusun Sugihan.Dusun Sugihan terletak cukup jauh dari pusat desa, bahkan jaraknya mencapai belasan kilometer. Perjalanan menuju dusun ini tidaklah mudah karena jalanan rawan longsor dan dipenuhi bebatuan. Meski begitu, Sugihan menjadi dusun terluas di Desa Kedung Sumber. Pada masa awal, Mbah Bores bekerja sendirian membuka hutan, menebas pohon demi pohon. Lama kelamaan, orang-orang yang singgah di wilayah itu ikut membantu dan akhirnya menetap. Dari sinilah permukiman perlahan meluas. Nama Sugihan sendiri berasal dari kata Jawa sugih yang berarti kaya, karena pada masa itu hanya segelintir orang yang memiliki lahan luas di wilayah tersebut.Selain sumber air di Tretes, Desa Kedung Sumber juga dikenal karena keberadaan pohon boleh dan pohon kricak. Kedua jenis pohon ini sejak dahulu dimanfaatkan masyarakat, terutama sebagai bahan obat-obatan alami. Daun, kulit, maupun akarnya dipercaya memiliki khasiat untuk meredakan berbagai penyakit. Orang-orang tua di desa kerap mengajarkan bahwa alam selalu menyediakan penawar, asalkan manusia mau menjaga keseimbangannya. Seiring waktu, pohon boleh dan kricak menjadi bagian dari identitas desa, diwariskan sebagai pengetahuan lokal yang terus dijaga.Makam Mbah Bores hingga kini masih berdiri di Dusun Sugihan. Masyarakat setempat merawatnya dengan penuh hormat. Dahulu, sebelum mengadakan hajatan atau acara besar, warga biasa datang untuk berziarah dan memanjatkan doa di makam tersebut, sebagai tanda meminta restu agar kegiatan berjalan lancar. Meski tradisi itu kini semakin jarang dilakukan, penghormatan kepada leluhur tetap terjaga sebagai bagian dari kearifan lokal.Kini Desa Kedung Sumber telah berkembang, jalanan mulai dibangun, dan kehidupan masyarakat semakin maju. Namun, kisah tentang sumber air yang terus menetes, tentang hutan yang dibabat menjadi dusun, serta tentang pohon boleh dan kricak yang memberi manfaat, tetap hidup dalam ingatan. Cerita itu mengingatkan bahwa pangan dan kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada sawah dan ladang, melainkan juga pada pohon-pohon yang tumbuh di sekitar, serta air yang mengalir abadi dari bumi.