Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terdapat sebuah desa yang memiliki nama unik sekaligus menyimpan kisah asal-usul menarik. Desa itu dikenal dengan sebutan Pungpungan. Nama ini bukan sekadar penanda wilayah, melainkan lahir dari perjalanan panjang sejarah, perjuangan dua tokoh pengembara, serta keberadaan tumbuhan khas yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat.
Pada masa kejayaan Kerajaan Malowopati, dua pengembara bernama Rodipo dan Rogati melintasi hutan belantara di tanah Jawa. Mereka mencari tempat yang aman, jauh dari bencana banjir yang sering melanda daerah lain. Perjalanan mereka akhirnya berhenti di sebuah kawasan yang masih sepi, hanya dihuni puluhan rumah sederhana, bahkan di bagian selatannya hanya berdiri tiga rumah saja.
Kehidupan penduduk setempat kala itu bergantung pada pertanian sederhana. Mereka menebang semak dan pohon, lalu membakarnya agar lahan bisa ditanami kebutuhan sehari-hari. Belum ada pemikiran untuk memperluas lahan atau memperbaiki sistem pengairan, sebab yang terpenting adalah makanan cukup tersedia di meja keluarga.
Rodipo dan Rogati merasa tanah itu menyimpan potensi besar. Mereka pun mulai membuka lahan lebih luas dan memikirkan cara mengalirkan air agar pertanian menjadi lebih subur. Rogati memimpin kelompok di bagian utara, sementara Rodipo berusaha di bagian selatan. Namun, perjuangan mereka tidaklah mudah. Hutan belukar yang lebat dipenuhi pepohonan pung, tumbuhan berduri yang mirip cajang tetapi memiliki duri lebih pendek.
Bagi masyarakat waktu itu, pohon pung sangat berharga. Batang pung sering dipakai sebagai bahan penyambung papan perahu, alat transportasi utama yang menghubungkan desa-desa melalui sungai. Tidak hanya pung, tumbuhan cajang dan serut yang banyak tumbuh di kawasan itu juga menjadi bagian penting kehidupan. Buahnya bisa diolah menjadi makanan atau bumbu, sementara bijinya menghasilkan minyak yang bermanfaat untuk pangan maupun kebutuhan lain di luar pangan. Inilah yang membuat tanah itu semakin bernilai, karena tumbuhan liar yang tampak sederhana ternyata menyimpan kekayaan gizi dan manfaat.
Setiap kali Rogati pulang dari selatan untuk menjenguk sahabatnya, orang-orang sering bertanya dari mana ia datang. Rogati menjawab, “dari pungpungan,” maksudnya dari daerah yang banyak pohon pung. Lama-kelamaan, sebutan itu melekat dan menjadi nama resmi desa hingga sekarang.
Perjalanan Rodipo di selatan tidak selalu mulus. Usahanya mengalirkan air kerap terkendala karena tanggul dekat belik sering longsor. Lokasi itu kemudian dikenal dengan nama Sumur Jengkur. Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang menuduh Rodipo melanggar adat, hingga ia dimusuhi dan dikejar-kejar. Dalam pelariannya, Rodipo bersembunyi di bawah pohon mojo dekat pemukiman kecil yang baru berisi tiga rumah. Karena kisah itu, tempat persembunyian tersebut dinamakan Mojodelik, yang berarti bersembunyi di dekat pohon mojo.
Mendengar kabar sahabatnya mendapat kesulitan, Rogati tidak tinggal diam. Ia bersama beberapa orang dari utara berangkat ke selatan, melerai konflik, dan memberi pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya memperluas lahan untuk kepentingan bersama. Perlahan-lahan, penjelasan mereka meluluhkan hati warga yang semula menentang. Bahkan orang-orang yang dulu memusuhi akhirnya ikut membantu Rodipo. Karena sering terlihat membela sahabatnya, ketika Rogati pulang, orang-orang bertanya dari mana ia datang, dan ia menjawab “dari mbelo,” yang berarti membela. Daerah itu pun kemudian dikenal sebagai Bilo.
Waktu berjalan, lahan pertanian di Pungpungan semakin berkembang. Keberadaan pohon pung, cajang, dan serut terus memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Buahnya menjadi bahan pangan dan bumbu, bijinya menghasilkan minyak yang bisa dipakai untuk kebutuhan dapur hingga keperluan lain di luar makanan. Inilah kekayaan alami yang membuat masyarakat Pungpungan semakin mandiri, sekaligus menjaga tradisi agraris yang diwariskan sejak masa leluhur.
Konon, makam Rogati berada di dekat pohon serut di pemakaman Desa Pungpungan, menjadi penanda perjuangan sang pengembara yang tak hanya membuka tanah pertanian, tetapi juga membuka jalan bagi persatuan masyarakat. Hingga kini, nama Pungpungan tetap hidup, menjadi saksi bahwa tumbuhan sederhana dapat membentuk identitas, menyatukan manusia, dan menegaskan betapa pangan adalah sumber kekuatan yang harus dijaga bersama.