Di pesisir utara Gresik, tepatnya di Desa Watuagung Mengare, berdiri sebuah makam tua yang hingga kini diyakini menyimpan kisah besar. Makam itu dikenal sebagai Makam Mbah Jarat Agung. Bagi masyarakat setempat, Mbah Jarat Agung bukanlah orang biasa. Ia dipercaya sebagai tokoh desa yang memiliki peran penting dalam menghubungkan Mengare dengan jalur perdagangan dunia.
Cerita tentangnya masih terjaga lewat kisah tutur para sesepuh desa. Menurut penuturan mereka, Mbah Jarat Agung dikenal sebagai seorang syahbandar, pemegang kendali pelabuhan, yang mengatur keluar masuknya kapal di pesisir Mengare. Syahbandar bukan hanya sekadar pejabat pelabuhan, melainkan tokoh yang menentukan arah perdagangan. Melalui tangannya, barang-barang dagangan dari berbagai negeri bertemu di satu titik. Dari pelabuhan Mengare, beras, rempah, dan hasil laut diperdagangkan ke berbagai penjuru. Pangan pun tidak lagi hanya menjadi kebutuhan hidup, tetapi menjadi simbol kemakmuran sekaligus perekat hubungan antarbangsa.
Hingga kini, keyakinan masyarakat tentang Mbah Jarat Agung semakin kuat setelah sejumlah pegiat sejarah desa menelusuri jejaknya. Nama Jarat Agung diduga berkaitan dengan catatan lama tentang Jaratan, sebuah pelabuhan penting yang dikenal dalam sejarah perdagangan. Bagi warga Mengare, bila benar bahwa leluhur mereka pernah berperan dalam perdagangan dunia, maka itu adalah warisan yang amat membanggakan.
Namun, perjalanan menemukan kepastian sejarah ini belumlah berakhir. Para pelestari makam berencana mengadakan kajian dan diskusi sejarah bersama sejarawan serta pegiat budaya. Harapannya, terungkap lebih banyak kisah yang dapat menguatkan peran Mbah Jarat Agung dalam sejarah perdagangan maritim.
Bagi masyarakat Mengare, kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Kehidupan mereka hingga kini masih erat dengan laut dan tanah pesisir. Hasil bumi, ikan, dan rempah tetap menjadi sumber nafkah. Dengan keyakinan bahwa jejak Mbah Jarat Agung pernah membuka jalan perdagangan besar, masyarakat merasa lebih dekat dengan akar sejarah pangan yang menopang kemakmuran mereka. Kisah ini mengingatkan bahwa pangan bukan hanya urusan perut, tetapi juga jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan sebuah peradaban.