Di wilayah Madiun, terdapat sebuah desa bernama Dolopo yang menyimpan kisah lama tentang pohon asam raksasa yang hingga kini menjadi ikon desa. Pohon asam itu tidak seperti pohon asam biasa. Bentuknya menyerupai payung besar, dengan dahan yang melebar luas sehingga mampu menaungi siapa saja yang berteduh di bawahnya. Usianya diperkirakan sudah ratusan tahun, menjadikannya saksi bisu perjalanan sejarah Dolopo dari masa ke masa.
Pada zaman dahulu, Dolopo bukanlah desa biasa. Sebelum kemerdekaan, wilayah ini merupakan bagian dari daerah residen yang dipimpin oleh seorang bangsawan bernama Demang Mardilopo. Kekuasaan Demang Mardilopo membentang luas, mencakup beberapa desa yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Dolopo dan Kecamatan Kebonsari. Pohon asam yang berdiri megah di tengah desa menjadi penanda penting, seakan menjaga kawasan itu dengan rindangnya. Banyak orang percaya, pohon tersebut bukan hanya sekadar tanaman, melainkan simbol kehidupan dan kemakmuran bagi penduduk sekitar.
Setelah Indonesia merdeka, status administratif Dolopo berubah. Wilayahnya tidak lagi seluas dahulu, melainkan menjadi sebuah desa dengan cakupan yang lebih kecil. Meski begitu, pohon asam tetap berdiri tegak, seakan tidak tergoyahkan oleh perubahan zaman. Masyarakat Dolopo pun menjadikannya sebagai lambang desa dan bagian dari identitas mereka.
Lebih dari sekadar ikon, pohon asam di Dolopo juga mengingatkan pada manfaat besar buah asam jawa dalam kehidupan sehari-hari. Buah asam sering digunakan sebagai bumbu masak untuk memberikan cita rasa asam alami pada berbagai hidangan tradisional. Kehadirannya membuat masakan terasa lebih segar dan nikmat. Selain itu, asam jawa dikenal berkhasiat membantu pencernaan, mengurangi bau amis pada daging dan ikan, bahkan berpotensi digunakan sebagai pengawet alami. Dengan demikian, pohon asam bukan hanya berperan dalam sejarah, tetapi juga dalam urusan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Kisah pohon asam di Dolopo mengajarkan bahwa sebuah pohon dapat menjadi lebih dari sekadar tumbuhan. Ia bisa menjadi penanda sejarah, sumber pangan, dan penghubung antara masa lalu dengan masa kini. Hingga saat ini, pohon itu masih berdiri, membawa pesan bahwa warisan alam harus terus dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi selanjutnya.