Di Kabupaten Tuban, tersimpan sebuah cerita rakyat yang melegenda sejak masa kejayaan Majapahit. Cerita ini dikenal dengan nama Legenda Watu Tiban, sebuah kisah yang tak hanya mengisahkan tentang batu misterius, tetapi juga menghubungkan kehidupan masyarakat dengan dunia peternakan dan perburuan.
Alkisah, pada zaman dahulu hiduplah para penggembala yang setiap hari menggembalakan domba mereka di padang rumput luas. Suasana kampung kala itu ramai dengan aktivitas beternak, sementara sebagian masyarakat lainnya juga mencari penghidupan melalui perburuan hewan di hutan sekitar. Di tengah kehidupan sederhana itu, terjadi sebuah peristiwa yang hingga kini masih dikenang.
Dikisahkan, ada sepasang burung bangau yang sedang terbang dari Majapahit menuju Demak. Burung-burung itu bukan burung biasa, sebab mereka membawa sebuah batu besar dalam cengkeraman. Batu itu diyakini memiliki makna sakral. Namun, ketika melintasi kawasan Tuban, sekelompok anak penggembala domba melihat mereka. Dengan riang, anak-anak itu bersorak dan berteriak keras. Sorakan tersebut mengejutkan burung bangau hingga mereka melepaskan batu yang dibawanya. Batu itu pun jatuh menghantam bumi Tuban.
Batu jatuh itu kemudian dikenal sebagai Watu Tiban, yang berarti batu yang tiba-tiba datang dari langit. Konon, batu tersebut memiliki bentuk menyerupai yoni, sebuah simbol kesuburan dalam tradisi Jawa. Kehadiran batu ini diyakini membawa pengaruh pada kehidupan masyarakat sekitar, terutama dalam kegiatan beternak dan bercocok tanam. Warga percaya bahwa keberadaan Watu Tiban menjaga kesuburan tanah dan memberi berkah pada hasil ternak serta buruan mereka.
Kini, batu peninggalan itu tidak lagi berada di tempat jatuhnya semula. Watu Tiban telah disimpan dengan baik di Museum Kambang Putih Tuban, menjadi saksi bisu sebuah legenda yang menyatukan kisah burung bangau, anak-anak penggembala, serta kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup dari alam. Meski hanya berupa batu, kisahnya telah hidup turun-temurun, mengajarkan tentang keselarasan antara manusia, hewan ternak, dan alam sekitarnya.
Legenda Watu Tiban bukan hanya cerita tentang sebuah batu yang jatuh, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Tuban memaknai kehidupan mereka melalui kisah sederhana yang penuh nilai. Batu itu seakan menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, beternak dan berburu bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga bagian dari warisan budaya yang harus dijaga.