
Di pesisir utara Tuban, tepatnya di Desa Bancar, terdapat sebuah peninggalan bersejarah yang masih terjaga hingga kini. Benda itu adalah sebuah jangkar tua, yang diyakini sebagai sisa kapal besar bernama Dampu Awang, kapal pedagang asal Tiongkok yang singgah lebih dari seribu lima ratus tahun silam.
Alkisah, kapal Dampu Awang berlabuh di pantai desa setempat. Namun karena mengalami kerusakan dan tidak pernah diperbaiki, kapal megah itu akhirnya karam ditelan lautan. Dari reruntuhan kapal yang hilang, hanya sebuah jangkar besar yang berhasil ditemukan oleh masyarakat. Jangkar itu kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Tuban, yang sejak dahulu dikenal sebagai bandar penting bagi perdagangan laut.
Kisah jangkar ini erat kaitannya dengan berbagai legenda. Sebagian orang menghubungkannya dengan cerita Sunan Bonang, tokoh wali yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Tuban. Ada pula yang menyinggung masa perjuangan membuka hutan papringan, yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Kabupaten Tuban. Bahkan terselip cerita tentang para pedagang Tiongkok yang ingin menguasai wilayah pesisir ini. Semua kisah itu berpadu, menjadikan jangkar sebagai simbol pertemuan antara budaya lokal, perdagangan internasional, dan perjuangan rakyat Tuban.
Sekitar sepuluh tahun lalu, warga desa berinisiatif memindahkan jangkar dari laut ke daratan. Pekerjaan itu tidak mudah. Dua puluh orang lebih bahu-membahu menggali dan mengangkatnya dengan penuh tenaga, agar peninggalan sejarah ini tidak semakin terkikis oleh ombak. Selain itu, sirip tajam pada jangkar sering kali melukai nelayan yang mencari ikan di sekitar lokasi karamnya kapal. Dengan dipindahkannya jangkar ke darat, warga bukan hanya menyelamatkan bukti sejarah, tetapi juga menjaga keselamatan mereka sendiri.
Bagi masyarakat pesisir Tuban, jangkar ini lebih dari sekadar peninggalan kuno. Ia menjadi pengingat eratnya hubungan mereka dengan laut. Sejak dahulu, laut adalah sumber pangan utama. Dari lautlah nelayan mencari ikan, udang, dan hasil tangkapan lainnya untuk menghidupi keluarga. Jangkar tua yang kini tergeletak di depan rumah warga seolah menjadi penanda bahwa hubungan manusia dengan laut tidak pernah terputus.
Cerita tentang jangkar Dampu Awang menegaskan betapa besar peran laut sebagai sumber pangan bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di Tuban. Laut bukan hanya ruang perdagangan dan pertemuan budaya, tetapi juga penopang kehidupan sehari-hari. Di balik besi tua yang berkarat, tersimpan kisah panjang tentang ketangguhan masyarakat pesisir yang menggantungkan harapan pada gelombang, angin, dan hasil tangkapan laut.