Tasbih Biji Pisang Pidak

URL Cerital Digital: https://www.merdeka.com/ramadan/tasbih-biji-pisang-warisan-sunan-bonang.html

Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, masih tersimpan sebuah kisah lama yang begitu lekat dengan kehidupan masyarakat. Kisah ini berkaitan dengan seorang wali besar yang namanya harum di seluruh Jawa, yaitu Sunan Bonang. Tidak hanya dikenal sebagai penyebar agama Islam, Sunan Bonang juga meninggalkan jejak yang erat hubungannya dengan pangan khas Tuban, yakni pisang pidak.

Alkisah, pada suatu bulan Ramadan, Sunan Bonang bersama muridnya, Sunan Kalijaga, tengah menempuh perjalanan melewati hutan belantara Tuban. Saat itu wilayah Tuban masih dipenuhi pepohonan rimbun dan semak belukar. Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh segerombolan perampok yang dipimpin oleh seorang berandal sakti bernama Bajilul. Bajilul dikenal sebagai orang kebal, berotot kawat, bertulang besi, bahkan konon tidak mempan senjata apa pun.

Dengan suara lantang, Bajilul menantang Sunan Bonang untuk menyerahkan semua barang bawaannya. Sunan Bonang yang tenang hanya menatapnya dengan lembut, kemudian menyerahkan bingkisan dan tongkatnya. Namun ketika Bajilul meminta tasbih yang selalu dibawanya, Sunan Bonang menolak. Ia menjelaskan bahwa tasbih itu bukan sembarang benda, melainkan sarana zikir yang memiliki kekuatan tersendiri.

Bajilul menertawakan penjelasan itu. Ia merasa mustahil ada tasbih yang mampu melukai tubuhnya yang kebal. Dengan congkak, ia bahkan menantang Sunan Bonang untuk membuktikan ucapannya. Akhirnya, Sunan Bonang mengayunkan tasbih itu dengan menyebut nama Allah. Seketika, saat butiran tasbih menyentuh punggung Bajilul, terdengar ledakan kecil, disertai percikan api. Bajilul pun terjerembab tak berdaya, sementara butiran tasbih berhamburan ke tanah.

Anak buah Bajilul yang menyaksikan peristiwa itu ketakutan. Mereka sadar bahwa pemimpin mereka tidak lagi kebal di hadapan kekuatan Allah. Dengan penuh penyesalan, mereka meminta ampun kepada Sunan Bonang dan berjanji untuk meninggalkan jalan hidup yang salah. Sunan Bonang kemudian menasihati mereka agar menyembah Allah semata dan hidup di jalan kebenaran.

Setelah suasana tenang, Sunan Bonang meminta Sunan Kalijaga mengumpulkan kembali biji tasbih yang berserakan. Dari seratus butir tasbih, hanya sembilan puluh sembilan yang berhasil ditemukan. Satu butir hilang entah ke mana. Sunan Bonang kemudian berkata dengan tenang, “Biarlah satu butir itu tetap tertinggal di sini. Kelak, ia akan tumbuh menjadi pohon pisang yang bermanfaat bagi anak cucu kita.”

Benar saja, dari biji tasbih itu tumbuh pohon pisang yang kemudian dikenal dengan nama pisang pidak atau juga disebut pisang fidya. Nama itu dipilih karena Sunan Bonang merasa puasanya telah ternoda akibat memukul seseorang, sehingga ia mengibaratkan pisang tersebut sebagai penebus denda (fidya) bagi orang yang tidak berpuasa.

Pisang pidak menjadi buah yang istimewa. Bijinya dapat dirangkai menjadi tasbih tanpa perlu dilubangi, karena sudah memiliki lubang di bagian tengahnya. Hingga kini, pisang pidak hanya tumbuh di sekitar makam Sunan Bonang di Tuban. Berbeda dengan jenis pisang lain, pisang ini tidak mudah berkembang biak karena tidak beranak, melainkan hanya bisa ditanam dari bijinya.

Masyarakat Tuban meyakini bahwa pisang pidak adalah warisan penuh makna dari Sunan Bonang. Selain sebagai sumber buah dan pangan, bijinya juga dimanfaatkan untuk membuat tasbih, sarana zikir yang mengingatkan manusia agar selalu dekat kepada Allah. Dengan demikian, kisah ini tidak hanya memperlihatkan karomah seorang wali, tetapi juga menunjukkan bagaimana pangan lokal bisa menyimpan nilai spiritual dan budaya yang mendalam.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.