LEGENDA PETILASAN DUSUN KLABANG

URL Cerital Digital: https://budaya-indonesia.org/LEGENDA-DUSUN-KLABANG

Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, terdapat sebuah dusun bernama Klabang. Nama dusun ini tidak hanya sekadar penanda wilayah, melainkan juga menyimpan kisah panjang yang diwariskan turun-temurun. Legenda tentang asal-usulnya terkait dengan seorang penggembala bernama Kekures, seekor siluman ular bernama Ontobugo, serta peran penting susu kambing dan pohon klampis yang hingga kini masih dikenang masyarakat.

Alkisah, Kekures setiap hari menggembala kambing-kambingnya di sekitar sebuah punden yang dianggap angker. Warga percaya tempat itu adalah sarang siluman ular. Namun Kekures tak gentar. Ia tahu rumput di sekitar punden sangat subur sehingga kambingnya tumbuh gemuk dan menghasilkan susu yang melimpah. Hasil susu kambing inilah yang kemudian menjadi sumber pangan penting bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Suatu siang, saat beristirahat di bawah rimbunan bambu, Kekures bermimpi didatangi sosok ular raksasa. Ular itu memperkenalkan diri sebagai Ontobugo, penguasa punden. Ia menuntut sesajen berupa susu kambing terbaik milik Kekures. Sebagai imbalannya, Ontobugo berjanji akan memberikan harta dan kekayaan. Kekures yang merasa mimpi itu adalah pesan gaib pun mematuhi perintah tersebut. Ia mempersembahkan susu kambing dalam takaran besar, dan sejak saat itu kehidupannya berubah. Kekayaannya bertambah, kambing-kambingnya makin berkembang biak, dan susu yang dihasilkan semakin melimpah.

Namun di balik berkah itu, Kekures memiliki anak bernama Bambang Durjana. Sesuai namanya, Bambang tumbuh dengan tabiat buruk. Ia gemar berjudi, mabuk-mabukan, dan menyusahkan orang lain. Kekures kerap menegurnya, tetapi tak pernah berhasil memperbaikinya. Bahkan ketika dinikahkan dengan seorang perempuan, perilaku Bambang tetap tak berubah.

Suatu ketika, Ontobugo menuntut tumbal baru, yaitu cucu Kekures. Sang penggembala tak sanggup mengorbankan darah dagingnya sendiri. Ia pun memohon pertolongan kepada Bathara Guru. Sang dewa kemudian menyelamatkan sang cucu dan membesarkannya hingga tumbuh menjadi pemuda gagah bernama Ajisaka. Dalam kisah Jawa yang lebih luas, Ajisaka dikenal sebagai tokoh sakti yang kelak menumpas Prabu Dewata Cengkar.

Kembali pada Bambang Durjana, ia yang selalu tamak akhirnya mengetahui rahasia ayahnya. Ia berniat membunuh Ontobugo demi merebut harta yang diyakininya tersimpan dalam tubuh siluman ular itu. Tetapi rencananya gagal. Justru ia sendiri yang tewas di tangan Ontobugo. Kekures dilanda kesedihan dan amarah. Ia lalu meminta Ajisaka untuk menuntaskan dendamnya.

Dengan strategi perang yang cerdas, Ajisaka berhasil melawan Ontobugo. Siluman ular itu melilit erat pohon klampis saat pertempuran berlangsung. Ajisaka memanfaatkan momen tersebut untuk menebas tubuh Ontobugo. Darahnya yang merah segar mengalir deras hingga membasahi batang pohon klampis. Sejak itu pohon tersebut dikenal dengan sebutan klampis abang, pohon klampis yang berwarna merah. Dari sinilah nama Dusun Klabang dipercaya berasal.

Bagi masyarakat Tuban, legenda ini bukan sekadar cerita gaib. Susu kambing yang dahulu menjadi sesajen bagi Ontobugo tetap dikenang sebagai sumber pangan penting yang menyehatkan. Sementara pohon klampis, yang dalam kisah ini menjadi saksi perlawanan Ajisaka, dipandang sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Hingga kini, punden tempat Ontobugo diyakini pernah bersemayam masih dianggap keramat oleh warga sekitar.

Legenda Dusun Klabang mengajarkan bahwa pangan bukan hanya pengisi perut, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Susu kambing memberi kehidupan, sedangkan pohon klampis menjadi penanda sejarah yang tak lekang oleh waktu.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.