
Pada masa silam, jauh sebelum wilayah Bangilan di Tuban ramai seperti sekarang, terdapat sebuah hutan belantara yang sunyi. Tempat itu kemudian menjadi persinggahan bagi orang-orang pelarian, termasuk bekas perampok, berandal, dan penduduk yang tersisih dari daerah lain. Lambat laun, mereka menetap dan membentuk sebuah perkampungan yang masih liar tanpa nama.
Di tengah masyarakat yang masih kacau itu, muncullah seorang tokoh yang disegani. Ia bernama Ki Mluyo Kusuma, seorang lelaki sakti yang dipercaya mampu menjaga keamanan kampung. Ki Mluyo memiliki dua pusaka andalan: seekor Ayam Jago dan seekor kuda. Namun, pusaka ini bukanlah pusaka biasa. Setiap malam, ayam dan kuda itu berkeliling kampung menjaga penduduk dari mara bahaya. Mereka seperti penjaga gaib yang membuat masyarakat merasa aman. Anehnya, ketika matahari terbit, keduanya berubah menjadi batu dan bersemayam di punden desa.
Suatu hari, datanglah seorang gadis cantik berkulit kuning langsat. Ia menjajakan dagangannya, jamu racikan tradisional. Gadis itu bernama Putri Bah-tei, seorang keturunan Tionghoa yang menetap di Bangilan. Kehadirannya membuat penduduk terpesona, bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga khasiat jamu yang ia tawarkan. Minuman sehat itu mampu mengusir lelah, membuat tubuh kembali segar, bahkan dipakai oleh Ki Mluyo untuk menjaga stamina setelah bekerja keras di sawah.
Ki Mluyo sendiri jatuh hati pada Putri Bah-tei. Ia lalu melamarnya, dan sang gadis menerima dengan hati tulus. Seluruh kampung bersuka cita. Mereka merayakan pesta perkawinan besar-besaran selama berhari-hari. Kehadiran Putri Bah-tei sebagai istri pemimpin membuat desa semakin semarak.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ancaman baru datang. Sekelompok berandal mencuri pusaka Ki Mluyo Kusuma, yakni ayam dan kuda penjaga kampung. Meski pusaka itu beberapa kali berhasil kembali sendiri setelah dicuri dan dibuang jauh, akhirnya keduanya benar-benar raib dan tak pernah pulang. Sejak saat itu, desa kembali dilanda kerawanan. Penduduk harus berjaga setiap malam, karena tanpa pusaka penjaga, kampung mereka mudah dimasuki maling.
Kesulitan demi kesulitan membuat hati Putri Bah-tei gundah. Ia merasa tak betah lagi tinggal di sana. Akhirnya, dengan berat hati, ia meninggalkan Ki Mluyo dan mengembara hingga menetap di wilayah Karang Tengah, Bangilan. Di tempat barunya, ia dikenal sebagai Randa Kuning, tokoh yang hingga kini makamnya masih diziarahi masyarakat.
Sementara itu, Ki Mluyo Kusuma hanya bisa mengenang istrinya yang pergi. Sebagai tanda cinta dan kenangan yang tak lekang oleh waktu, ia memberi nama desanya dengan sebutan Bate, yang berasal dari nama Bah-tei, si penjual jamu yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarah kampung itu.
Kisah turun-temurun ini bukan hanya bercerita tentang cinta, pengorbanan, dan kehilangan, tetapi juga mengingatkan akan nilai penting pangan tradisional seperti jamu yang menjaga kesehatan, serta simbol ayam jago dan kuda yang merepresentasikan kekuatan dan ketahanan desa. Hingga kini, cerita asal usul Desa Bate tetap hidup sebagai warisan budaya yang memperkaya sejarah Tuban.