Di tepian jalur utama antara Giri dan Majapahit, berdirilah sebuah dusun yang dahulu dikenal dengan nama Munggu Rawu. Dusun ini tidak hanya terkenal karena letaknya yang strategis, tetapi juga karena seorang pendekarnya yang melegenda, yakni Mbah Rawoh.
Pada masa itu, masyarakat Jawa mengenal tradisi pantekan, sebuah pertarungan antar pendekar dengan taruhan harga diri desa. Senjata yang digunakan adalah pantek, sebatang bambu runcing yang dilemparkan layaknya tombak. Pertarungan ini seringkali memakan korban jiwa, sebab hanya mereka yang benar-benar sakti berani berada di garis depan.
Mbah Rawoh adalah salah satu pendekar yang disegani. Dalam pertarungan pantekan, tubuhnya seolah kebal terhadap senjata tajam. Ia mampu menangkis dan menghindari setiap lemparan bambu runcing tanpa setetes darah pun keluar dari tubuhnya. Lemparan pantek miliknya pun jarang meleset, menjatuhkan banyak lawan dalam sekali serang. Kehebatan inilah yang membuat namanya tersohor hingga desa-desa lain.
Karena kepopuleran Mbah Rawoh, dusun tempat tinggalnya kemudian dikenal dengan nama Munggu Rawu, sebuah penyematan dari masyarakat luar desa untuk membedakan dengan pedukuhan Munggu lainnya. Nama itu melekat hingga bertahun-tahun lamanya, bahkan setelah sang pendekar tiada.
Namun, sejarah kemudian mencatat masa kelam. Ratusan tahun setelah kepergian Mbah Rawoh, wabah pagebluk menyerang desa. Penyakit aneh merebak, menular dengan cepat, dan tidak ada obat yang mujarab untuk menyembuhkannya. Penduduk jatuh sakit, keresahan menyelimuti desa, dan doa-doa pun dipanjatkan siang malam.
Para orang sakti yang masih tersisa memberi sebuah saran. Desa ini harus berganti nama agar terhindar dari malapetaka. Warga pun sepakat mengganti nama Munggu Rawu menjadi Munggugianti, sebuah gabungan dari dua dusun, Munggu dan Gianti. Nama baru ini dipercaya membawa keberuntungan, keselamatan, serta kesejahteraan.
Perubahan tidak berhenti pada nama. Tata letak jalan desa juga diubah. Jalan yang tadinya lurus dari utara ke selatan digeser dan dibelokkan ke barat sebelum kembali ke selatan. Hal ini dilakukan berdasarkan perhitungan tradisi Jawa agar desa tidak lagi tertimpa kesusahan, melainkan berlimpah sandang dan pangan.
Di tengah semua perubahan itu, ada satu prinsip yang tetap bertahan di hati masyarakat: mangan ora mangan pokoke ngumpul. Prinsip ini berarti makan tidak makan yang penting tetap bersama. Nilai kebersamaan inilah yang membuat warga saling membantu, bergotong royong, dan menjaga desa tetap tenteram. Pangan, meski sederhana, menjadi lambang ikatan batin antarwarga dan simbol kesejahteraan yang mereka dambakan.
Kini, Desa Munggugianti tumbuh menjadi tempat yang subur, ayem tentrem kertoraharjo, dengan warga yang hidup damai dan rukun. Nama baru yang lahir dari kesepakatan, doa, dan selamatan sederhana telah membawa desa ini pada jalan keberkahan.