Mbah Kyai Gede

URL Cerital Digital: https://www.gresiksatu.com/sejarah-desa-bungah-perjalanan-murid-sunan-giri-mbah-kyai-gede/

Di pesisir utara Kabupaten Gresik, terdapat sebuah desa yang hingga kini dikenal sebagai Desa Bungah. Desa ini tidak hanya terkenal karena banyaknya pondok pesantren dan sebutan sebagai desa para santri, tetapi juga menyimpan kisah lama tentang seorang ulama asal Bugis Makassar yang datang membawa misi dagang sekaligus dakwah.

Konon, berabad-abad lalu, seorang murid Sunan Giri yang dikenal dengan nama Mbah Kyai Gede menapakkan kaki di tanah Bungah. Beliau bukan hanya ulama, melainkan juga seorang pedagang kelapa. Setiap hari ia menjajakan buah kelapa kepada masyarakat setempat. Namun lebih dari sekadar berdagang, ia menyelipkan dakwah Islam dalam setiap pertemuan dengan warga. Kelapa yang ia bawa bukan hanya memberi kesegaran, tetapi juga menjadi sarana untuk menyebarkan ajaran kebaikan.

Seiring berjalannya waktu, kehadiran Mbah Kyai Gede membawa perubahan besar. Desa yang sebelumnya dikenal kumuh dan bahkan identik dengan tempat maksiat, perlahan berubah menjadi pusat kegiatan keagamaan. Ia menata lingkungan desa, membangun taman bunga yang indah, dan menghidupkan suasana penuh kebahagiaan. Tidak heran bila kemudian banyak pendatang merasa senang ketika berkunjung ke sana.

Dari sinilah muncul berbagai versi cerita tentang asal-usul nama Bungah. Ada yang menyebut bahwa Bungah berasal dari kata Bongo, istilah dalam bahasa Sulawesi yang berarti kelapa, karena pada masa itu pohon kelapa tumbuh melimpah di desa ini. Ada pula yang meyakini nama Bungah berasal dari kata senang dan bunga, yang melambangkan rasa bahagia dan keindahan taman bunga yang dirawat oleh Mbah Kyai Gede.

Kedua versi tersebut sama-sama menegaskan satu hal, yaitu bahwa Bungah lahir dari perpaduan antara pangan dan kebahagiaan. Kelapa sebagai simbol pangan pokok yang serbaguna, dipadukan dengan bunga yang mewakili keindahan dan ketenteraman.

Lebih dari lima abad telah berlalu, namun kisah itu tetap dikenang. Desa Bungah kini memiliki lima dusun yang ramai dihuni santri dan masyarakat religius. Warisan Mbah Kyai Gede masih terasa, baik dalam semangat dakwah maupun dalam jejak kelapa yang dahulu menjadi sarana penyambung hidup sekaligus pembawa berkah.

Legenda ini mengingatkan bahwa pangan tidak hanya memberi makan tubuh, tetapi juga bisa menjadi alat untuk merajut persaudaraan, mengubah lingkungan, bahkan membangun peradaban.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.