Desa Hendrosari

URL Cerital Digital: https://hendrosaridesaid.wordpress.com/sejarah-desa/

Pada zaman dahulu kala, tepatnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, ada sebuah desa yang kala itu dikenal dengan nama Wonosari. Nama itu berasal dari dua kata, yaitu Wono yang berarti hutan dan Sari yang berarti putik bunga yang manis. Desa ini mendapat nama demikian karena wilayahnya dipenuhi oleh pohon siwalan yang tumbuh subur, membentuk semacam hutan kecil yang hijau dan teduh.

Di tengah desa terdapat sebuah waduk yang terkenal akan keindahannya. Konon, waduk itu dijaga oleh seorang penunggu perempuan yang sangat cantik jelita. Kecantikannya tersiar ke berbagai penjuru sehingga banyak laki-laki datang silih berganti ke waduk itu. Namun, keanehan mulai terjadi. Banyak di antara mereka yang awalnya sehat-sehat saja, tetapi setelah pulang dari desa itu mendadak sakit.

Masyarakat sekitar pun memberi julukan kepada Wonosari dengan sebutan yang agak menyeramkan, yakni Mlebu Waras Moleh Loro, artinya masuk desa dalam keadaan sehat tetapi pulang dalam keadaan sakit. Padahal, rahasia dari peristiwa itu sebenarnya sederhana. Para laki-laki yang datang bukan hanya tergoda oleh kecantikan sang penunggu waduk, tetapi juga terbiasa menenggak minuman keras. Akibatnya, mereka tidak benar-benar sakit melainkan mabuk, sehingga tubuh terasa lemah saat pulang.

Lama-kelamaan, julukan buruk itu membuat warga resah. Mereka tidak ingin desanya dikenal sebagai tempat kutukan yang membuat orang tidak waras. Maka diadakanlah berbagai ritual untuk membersihkan desa. Hingga akhirnya mereka sepakat mengganti nama desa. Wonosari berubah menjadi Hendrosari. Nama baru ini berasal dari kata Hendro yang berarti raja dan Sari yang tetap berarti putik bunga yang manis. Harapannya, desa dengan nama baru ini akan membawa keberkahan dan kejayaan.

Seiring berjalannya waktu, perubahan nama itu membawa dampak baik. Desa Hendrosari mulai dikenal bukan lagi sebagai desa yang membuat orang sakit, melainkan desa yang memberikan kesembuhan. Semua itu berkat pohon siwalan yang tumbuh subur di sana. Dari batang siwalan inilah mengalir sari manis yang disebut legen. Minuman ini terkenal segar, alami, dan dipercaya mampu mengobati berbagai macam penyakit.

Sejak saat itu, desa Hendrosari justru mendapat julukan baru yang penuh makna, yaitu Mlebu Loro Moleh Waras, artinya masuk desa dalam keadaan sakit dan pulang dalam keadaan sembuh. Legen dari pohon siwalan menjadi minuman kebanggaan warga, sekaligus sumber mata pencaharian yang menghidupi banyak keluarga.

Hingga hari ini, warga Hendrosari tetap setia menjaga tradisi mengolah sari siwalan. Legen bukan hanya sekadar minuman pelepas dahaga, melainkan juga simbol kesembuhan, kerukunan, dan warisan yang mempererat masyarakat dengan alam. Di balik setiap tetes legen, tersimpan kisah panjang tentang bagaimana sebuah desa mampu mengubah kutukan menjadi keberkahan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.