Desa Gedangkulut

URL Cerital Digital: https://kabarbaik.co/gedangkulut-desa-strategis-di-gresik-yang-menyimpan-sejarah-dan-potensi-besar/

Pada masa silam, ketika peperangan antara pasukan Islam dan bala tentara Buddha masih berkobar, terjadilah sebuah kisah yang kelak menjadi awal mula berdirinya Desa Gedangkulut. Pasukan Islam yang kalah dalam pertempuran harus mundur, melintasi hutan dan perkampungan demi menyelamatkan diri. Mereka terus dikejar tanpa henti, hingga tiba di sebuah tempat bernama Nggembyang, yang kini dikenal berada di timur Terminal Giri.

Namun, pengejaran tidak berhenti di sana. Pasukan Islam kian terdesak hingga singgah di Sengkren, lalu melanjutkan langkah ke Padeg untuk menyusun strategi menghindari kepungan musuh. Mereka bergerak di bawah gelapnya malam, menyusuri aliran sungai agar tidak terdeteksi. Akhirnya, mereka tiba di sebuah tempat bernama Pentasan. Di sanalah pasukan itu beristirahat, mengumpulkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Perjalanan diteruskan ke selatan, melewati daerah Sikepyak dan Siwedus. Di sebuah pemukiman kecil, mereka berharap mendapat bantuan air minum. Namun, penduduk enggan memberi setetes pun. Sang pemimpin pasukan Islam merasa kecewa dan menyebut penduduk itu sebagai “sigit,” yang dalam bahasa setempat berarti kikir.

Di pemukiman tersebut, pemimpin pasukan berniat mendirikan masjid. Akan tetapi, penduduk mengajukan syarat yang mustahil: masjid harus selesai dibangun sebelum ayam berkokok. Sepanjang malam mereka bekerja keras, tetapi fajar datang lebih cepat. Masjid itu gagal diselesaikan tepat waktu. Merasa tidak diterima, pasukan Islam itu pun meninggalkan pemukiman dan melangkah ke arah timur.

Di tengah perjalanan, sang pemimpin bersemedi. Ia memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Doanya dijawab dengan perintah untuk membuat sebuah sumur. Dengan hentakan kakinya, tanah itu terbelah dan memancarkan air jernih berlapis-lapis. Sumur itu kelak dikenal sebagai Sumur Sucen, yang hingga kini masih ada di wilayah Gedangkulut. Tak jauh dari sumur, didirikanlah sebuah langgar sederhana bernama Langgar Cangkring. Tempat itu diyakini sebagai langgar pertama di Gedangkulut.

Seiring berjalannya waktu, pemukiman di sekitar sumur mulai ramai. Para penduduk mengolah tanah dan menanam berbagai jenis tanaman. Salah satu hasil bumi yang paling menonjol adalah pisang emas. Pisang ini berwarna kuning cerah, manis, dan harum, hingga menjadi kebanggaan warga. Karena keistimewaannya, daerah itu mula-mula disebut Gedang Pulut, yang bermakna pisang emas yang istimewa.

Dari masa ke masa, nama Gedang Pulut perlahan berubah menjadi Gedangkulut. Desa ini tumbuh subur, masyarakatnya makmur, dan pisang emas tetap menjadi simbol utama kemakmuran desa. Pisang emas bukan hanya sekadar buah untuk mengisi perut, tetapi juga sumber energi alami, makanan sehari-hari, sekaligus hasil bumi yang membawa identitas bagi desa.

Pemimpin pasukan Islam yang menjadi cikal bakal masyarakat Gedangkulut akhirnya menetap di desa ini hingga akhir hayatnya. Ia tidak memiliki keturunan, tetapi mengangkat seorang anak yang kelak memiliki empat cucu. Keturunan itu menyebar ke berbagai daerah seperti Gedangkulut, Benjeng, Balongpanggang, dan Lamongan. Makam sang pemimpin masih dapat ditemui di pemakaman tua desa, yang dikenal sebagai Jaratan.

Hingga kini, pisang emas Gedangkulut tetap dikenang sebagai pangan yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menjadi pengikat sejarah dan jati diri masyarakat. Setiap kali pisang emas dinikmati, terselip kisah panjang tentang perjuangan, keteguhan, dan berkah yang dianugerahkan kepada desa ini.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.