Pada masa lampau, jauh sebelum Desa Randuagung berdiri, wilayah itu hanyalah hamparan tanah luas yang ditumbuhi pohon-pohon randu raksasa. Pohon randu atau kapuk dikenal memiliki akar yang kuat mencengkeram bumi, batangnya kokoh menjulang, dan buahnya menghasilkan serat putih lembut yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan hidup.
Di sekitar hutan randu itu, masyarakat masih hidup dengan kepercayaan animisme. Pohon-pohon besar dianggap memiliki jiwa, bahkan dipercaya sebagai tempat tinggal makhluk halus. Pohon randu yang berusia sangat tua kerap dikeramatkan. Tak seorang pun berani menebang atau merusaknya. Orang-orang yang melintas pun biasanya akan menundukkan kepala atau sekadar berdoa dalam hati agar tidak diganggu oleh penunggu gaib yang diyakini mendiami batang besar itu.
Namun waktu terus berjalan. Pohon-pohon randu yang dulu gagah mulai dimakan usia. Satu per satu tumbang karena rapuh atau dihantam angin kencang. Kepercayaan lama pun perlahan terkikis seiring masuknya ajaran Islam ke daerah itu. Masyarakat mulai memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah ciptaan Tuhan, dan yang pantas disembah hanyalah Dia semata.
Dengan berlalunya kepercayaan mistis, tanah di sekitar pohon randu besar mulai ditempati. Dari sinilah cikal bakal Desa Randuagung lahir. Nama desa itu sendiri diambil dari keberadaan pohon randu yang sangat besar dan menjadi penanda wilayah pada masa lalu. Randu berarti pohon kapuk, sementara agung bermakna besar. Jadi, Randuagung dapat diartikan sebagai tanah di mana pohon randu raksasa pernah berdiri megah.
Meski pohon randu yang dahulu sakral kini tak lagi ada, jejaknya tetap terasa. Buah randu menghasilkan kapuk yang sejak dulu hingga kini berguna bagi masyarakat. Serat putihnya bisa diolah menjadi bantal atau kasur, sementara bijinya bisa dimanfaatkan sebagai minyak dan bahkan bahan pangan alternatif. Kapuk randu pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan rumah tangga tradisional, terutama di desa-desa Jawa Timur.
Kini, Desa Randuagung tidak lagi dikenal karena pohon keramat, melainkan karena sejarahnya yang sarat makna. Dari sebuah hutan yang dilingkupi kepercayaan animisme, desa ini tumbuh menjadi permukiman yang damai. Randu agung mungkin telah tumbang, tetapi namanya tetap hidup sebagai pengingat bahwa alam, pangan, dan manusia selalu terikat dalam satu cerita panjang yang membentuk identitas sebuah desa.