Dusun Ngemplak

URL Cerital Digital: https://desasooko.com/sejarah-desa/#:~:text=Lalu%20pohon%20itu%20dikeramatkan%20Warga,tersebut%20menjadi%20identitas%20Desa%20Sooko.&text=Didusun%20Ngemplak%20terdapat%20tempat%20keramat,seserahan%20tiap%20hari%20jumat%20pon.&text=Di%20dusun%20grenjengan%20terdapat%20sebuah,air%20terjun%20tersebut%20masih%20ada.

Di sebuah dusun kecil bernama Ngemplak, terdapat sebuah tempat yang dipercaya keramat oleh masyarakat setempat. Tempat itu dikenal dengan sebutan Boto Tumpuk. Dari cerita yang diwariskan para sesepuh, Boto Tumpuk bukan sekadar tumpukan batu biasa, melainkan tempat penunggu gaib yang menjaga ketenteraman dan keselamatan seluruh warga dusun.

Sejak dulu, masyarakat Ngemplak percaya bahwa setiap desa memiliki penjaga tak kasat mata. Penunggu itu dianggap hadir untuk melindungi warga dari marabahaya dan memberi keseimbangan pada kehidupan sehari-hari. Sebagai wujud penghormatan, warga tidak pernah melupakan Boto Tumpuk.

Setiap Jumat Pon, hari yang dianggap sakral, warga berkumpul membawa seserahan. Seserahan itu tidak sembarangan, melainkan berupa tumpeng dan aneka hasil bumi. Tumpeng, dengan bentuknya yang mengerucut, menjadi lambang doa agar kehidupan warga selalu naik menuju kebaikan, seperti puncak tumpeng yang menjulang. Lauk pauk yang menyertai tumpeng juga dipilih dari pangan lokal, hasil kerja keras para petani dan nelayan di sekitar desa.

Acara itu bukan sekadar ritual permohonan keselamatan, tetapi juga ungkapan syukur atas panen yang diberikan oleh tanah Ngemplak. Setiap butir nasi dalam tumpeng bagaikan doa yang dipanjatkan, setiap sayur dan lauk pauk menjadi pengingat bahwa pangan adalah berkah yang harus dijaga bersama.

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan masyarakat mulai bergeser dengan masuknya ajaran Islam dan berkembangnya pemahaman baru. Namun, tradisi membawa tumpeng ke Boto Tumpuk tetap hidup, bukan lagi semata-mata untuk memuja penunggu, melainkan sebagai sarana menjaga kebersamaan, mengikat tali silaturahmi, dan merawat warisan budaya leluhur.

Hingga kini, Boto Tumpuk masih berdiri sebagai saksi bisu perjalanan Dusun Ngemplak. Setiap Jumat Pon, aroma nasi tumpeng yang harum masih tercium di sana, menjadi pengingat bahwa pangan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, melainkan juga sarana doa, rasa syukur, dan perekat masyarakat.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.