Legenda Parimono

URL Cerital Digital: https://njombangan.com/seni-dan-budaya/cerita-rakyat-legenda/

Di tanah Jawa yang subur, jauh sebelum sawah-sawah hijau membentang seperti permadani, hiduplah dua tokoh sakti yang namanya masih diceritakan orang hingga kini. Mereka adalah Kebo Kicak dan Surontanu, dua sosok dengan kekuatan luar biasa yang kerap meninggalkan jejak dalam sejarah Jombang.

Kebo Kicak bukanlah manusia biasa. Ia pernah dikenal sebagai sosok yang durhaka kepada orang tuanya, hingga karena sabda kutukan, kepalanya berubah menyerupai kerbau. Namun, nasib buruk itu justru membawanya menapaki jalan baru. Dengan rendah hati, ia menimba ilmu dari seorang kyai sakti. Waktu demi waktu, Kebo Kicak bertobat dan tumbuh menjadi seorang lelaki saleh, berilmu agama mendalam, dan memiliki kesaktian yang tidak tertandingi.

Sementara itu, Jombang pada masa itu diguncang ketakutan oleh kehadiran Surontanu, seorang perampok sakti mandraguna. Tak seorang pun mampu mengalahkannya. Rakyat hanya bisa berdoa, berharap ada sosok yang bisa menghadirkan keadilan dan menumpas kejahatan. Doa itu akhirnya terjawab ketika Kebo Kicak turun gunung untuk menantang Surontanu.

Pertarungan pun pecah. Tanah bergetar, langit seolah ikut menyaksikan. Kedua tokoh ini bertarung tanpa mengenal lelah, senjata dan tenaga dalam berpadu menciptakan suara menggelegar. Surontanu yang angkuh akhirnya mulai terdesak, hingga ia melarikan diri membawa serta seekor banteng sakti bernama Tracak Kencono.

Pelarian Surontanu panjang dan melelahkan. Ia berlari menembus hutan, menyeberangi sungai, hingga akhirnya tiba di sebuah hamparan persawahan luas. Di sanalah tanaman pari, atau padi, tumbuh subur dengan malai menguning menandakan hasil panen yang melimpah. Namun, ketenangan sawah itu seketika berubah.

Kebo Kicak tiba bersama sembilan pengikut setianya yang disebut Nawabayangkari. Surontanu yang terkejut melihat kehadiran mereka langsung menghentakkan tali pengikat banteng sakti yang dibawanya. Seketika banteng itu mengamuk, berlari membabi buta di tengah sawah, dan merusak tanaman padi yang semula berdiri tegak. Malai padi yang diguncang dan diinjak luluh lantak, seolah ikut menangis menyaksikan pertarungan yang tak kunjung usai.

Melihat itu, Kebo Kicak hanya bisa menggelengkan kepala dengan geram. Ia marah bukan semata karena banteng yang dilepaskan, melainkan karena padi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat telah dirusak tanpa belas kasih. Dari peristiwa itulah lahir sebuah sebutan: Parimono, yang bermakna padi yang disasak hingga rusak akibat pertempuran dua tokoh sakti itu.

Sejak saat itu, nama Parimono melekat sebagai tanda sejarah di daerah tersebut. Ia menjadi pengingat betapa pentingnya tanaman pari atau padi bagi kehidupan masyarakat Jawa. Padi bukan sekadar tumbuhan, melainkan lambang kesejahteraan, kehidupan, dan harapan. Dari bulir-bulirnya tercipta nasi yang menjadi makanan pokok, sumber karbohidrat yang menguatkan tenaga dan menjaga kelangsungan hidup keluarga.

Lebih dari sekadar pangan, padi juga menyimpan nilai budaya. Ada doa dalam setiap langkah petani saat menanamnya, ada syukur dalam setiap panen, dan ada gotong royong yang terjalin erat di sawah. Padi mengikat manusia dengan alam, dan kisah Parimono mengingatkan bahwa kerusakan sekecil apapun terhadapnya adalah luka bagi seluruh kehidupan.

Hingga kini, legenda Parimono tidak sekadar diceritakan sebagai kisah tentang pertarungan dua tokoh sakti. Ia juga menjadi kisah tentang bagaimana padi dihargai setinggi-tingginya sebagai anugerah Tuhan. Dari bulir kecil yang tumbuh di lumpur, lahirlah kekuatan untuk menghidupi banyak jiwa.

Maka, setiap kali penduduk menyebut nama Parimono, terselip pesan agar manusia selalu menjaga dan menghormati padi. Sebab tanpa padi, tiada nasi di meja, dan tanpa nasi, kehidupan masyarakat Jawa tak lagi sama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.