Pada masa silam, jauh sebelum kota-kota besar berdiri di Jawa Timur, hiduplah tokoh-tokoh sakti yang kisahnya diwariskan dari mulut ke mulut. Mereka adalah Kebo Kicak, sosok sakti berkepala kerbau yang telah bertobat dari masa lalunya, dan Surontanu, seorang perampok sakti yang membuat resah tanah Jombang. Pertarungan mereka tidak hanya menyisakan jejak sejarah, tetapi juga meninggalkan nama-nama tempat yang hingga kini masih dikenang, salah satunya adalah Mojosongo.
Dikisahkan, setelah pelarian panjang, Surontanu mencari tempat untuk bersembunyi. Ia membuat sebuah persembunyian sederhana dari akar-akaran, ranting kayu, serta daun-daun kering klaras. Lingkungan tempat ia bersembunyi dipenuhi pepohonan maja yang rimbun. Pohon maja, atau yang juga dikenal sebagai mojo, tumbuh dengan buah bulat keras yang terasa pahit ketika dimakan mentah. Meski demikian, buah ini memiliki nilai penting sebagai pangan lokal karena bisa diolah menjadi berbagai minuman tradisional atau ramuan herbal yang menyegarkan.
Di tengah persembunyiannya, Surontanu menyiapkan panah. Ia tahu bahwa Kebo Kicak tidak akan berhenti mengejarnya. Benar saja, tak lama kemudian Kebo Kicak muncul bersama sembilan prajurit setianya yang dikenal sebagai Nawabayangkari. Udara hening berubah tegang, hingga akhirnya pertarungan pun pecah.
Surontanu memanah dengan kecepatan luar biasa. Satu per satu anak panahnya melesat menembus udara, menghantam sasaran dengan akurat. Nawabayangkari, yang setia membela tuannya, bertumbangan di medan laga. Sembilan prajurit itu gugur satu demi satu, hingga hanya Kebo Kicak yang tersisa, berdiri tegak menghadapi Surontanu.
Pepohonan maja yang mengelilingi tempat itu menjadi saksi bisu. Daun-daunnya bergemerisik tertiup angin, seakan ikut merasakan getirnya pertarungan. Buah maja yang jatuh ke tanah terdengar bergema di antara dentuman senjata. Dalam kesunyian hutan kecil itu, darah, keringat, dan amarah bercampur, meninggalkan luka yang tak hanya pada tanah, tetapi juga dalam ingatan masyarakat setempat.
Dari peristiwa inilah kemudian lahir nama Mojosongo. Kata “mojo” berasal dari pohon maja yang tumbuh lebat di sekitar tempat pertarungan, sementara “songo” berarti sembilan, melambangkan sembilan prajurit Kebo Kicak yang gugur di tangan Surontanu. Nama itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan pengingat tentang keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan.
Namun di balik cerita peperangan, tersimpan pula pesan tentang pohon maja itu sendiri. Pohon ini memang menghasilkan buah dengan rasa pahit, tetapi masyarakat Jawa sejak lama mengenal cara memanfaatkannya. Buah maja bisa dijadikan campuran minuman, bahan jamu, atau bahkan ramuan obat tradisional. Meski sederhana, buah ini melambangkan ketahanan pangan lokal yang diwariskan leluhur. Ia menjadi bukti bahwa alam selalu menyediakan anugerah, hanya saja manusia perlu bijak untuk mengolahnya.
Legenda Mojosongo akhirnya tidak hanya menjadi kisah tentang dua tokoh sakti. Ia juga menyampaikan pesan tentang nilai pohon maja sebagai simbol keteguhan dan kesabaran. Sama seperti buah maja yang pahit ketika baru dipetik, namun dapat bermanfaat ketika diolah dengan cara yang tepat, kehidupan pun mengajarkan bahwa hal yang pahit bisa menjadi berkah bila dihadapi dengan kebijaksanaan.
Kini, ketika orang-orang menyebut Mojosongo, mereka tidak hanya mengingat sebuah tempat di Jombang. Mereka juga mengingat kisah tentang sembilan prajurit yang setia hingga akhir, tentang pertarungan yang mengguncang tanah Jawa, dan tentang pohon maja yang buahnya menjadi bagian dari tradisi pangan masyarakat.