Alkisah pada masa lampau, ketika tanah Jawa masih dipenuhi hutan lebat, rawa-rawa, dan ladang luas, hiduplah dua tokoh sakti yang namanya tersimpan dalam kisah rakyat Jombang. Mereka adalah Surontanu, perampok sakti yang menebar teror di banyak tempat, serta Kebo Kicak, sosok manusia berkepala kerbau yang telah bertobat dan mengabdikan dirinya untuk kebaikan.
Pada suatu waktu, Surontanu yang terus-menerus dikejar oleh Kebo Kicak berlari ke arah utara. Ia berusaha mencari perlindungan, namun langkahnya justru membawanya ke sebuah tempat yang sepi, di mana terdapat sebuah kolam yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Di tepi kolam itu berdiri rumah sederhana beratap jerami dan alang-alang, sementara tak jauh dari sana tampak pemandian kerbau. Kawanan kerbau tampak berendam dengan tenang, tubuh besar mereka dikelilingi air yang jernih.
Jerami yang menumpuk di sekitar rumah itu menjadi sumber makanan bagi kerbau-kerbau tersebut. Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, jerami memang memiliki peran penting, bukan hanya sebagai atap rumah sederhana, tetapi juga sebagai pakan ternak. Kerbau sendiri adalah hewan yang berharga, sumber tenaga untuk membajak sawah sekaligus penyedia daging yang menjadi asupan protein bagi masyarakat. Tempat itu, dengan rumah beratap jerami dan kerbau yang beristirahat, seakan menjadi simbol kehidupan pedesaan yang damai dan penuh kesederhanaan.
Namun, kedamaian itu segera terusik. Dari dasar kolam, tiba-tiba muncul cahaya hijau dan merah yang menembus permukaan air. Kedua cahaya itu melesat ke langit, memancarkan sinar cemerlang seolah menjadi pertanda bahwa pertarungan besar akan segera terjadi.
Tidak lama kemudian, muncullah Kebo Kicak. Tatapannya tajam, tubuhnya menjulang dengan wibawa yang tak terbantahkan. Surontanu terkejut, namun ia tidak punya pilihan selain menghadapi lawannya. Mereka pun terlibat dalam percekcokan yang segera berubah menjadi pertarungan sengit.
Tanah bergetar, air kolam berguncang, jerami beterbangan, dan kerbau yang semula tenang menjadi gaduh berlarian. Pukulan dan benturan tenaga sakti membuat suasana kacau. Surontanu berusaha melawan sekuat tenaga, tetapi serangan demi serangan Kebo Kicak membuatnya kewalahan. Akhirnya ia terpukul mundur, tubuhnya terhuyung ke tanah.
Dengan sisa tenaga, Surontanu memilih melarikan diri. Ia berlari ke arah timur, meninggalkan kolam yang sudah berantakan. Airnya keruh, pemandian kerbau rusak, dan tumpukan jerami berhamburan. Tempat itu tidak lagi sama, tetapi peristiwa tersebut meninggalkan jejak yang terus dikenang.
Masyarakat kemudian menamai daerah itu sebagai Jombang. Nama ini menjadi saksi bisu dari kisah pertarungan dua tokoh sakti yang pernah mengguncang tanah Jawa. Di balik cerita heroik tersebut, terdapat pesan tentang pentingnya jerami dan kerbau dalam kehidupan sehari-hari. Jerami bukan hanya sekadar sisa panen padi, tetapi juga penopang hidup ternak. Sementara kerbau bukan hanya hewan peliharaan, melainkan sahabat petani yang memberi tenaga dan sumber pangan berupa daging untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Legenda Jombang akhirnya tidak hanya mengisahkan pertarungan dua tokoh sakti, tetapi juga menggambarkan eratnya hubungan manusia dengan alam dan pangan lokalnya. Jerami dan kerbau, yang tampak sederhana, ternyata menyimpan makna besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat pedesaan Jawa Timur. Hingga kini, kisah ini tetap hidup dalam ingatan, menjadi pengingat bahwa dari kesederhanaan panganlah lahir kekuatan untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan.