Legenda Sumber Peking

URL Cerital Digital: https://njombangan.com/seni-dan-budaya/cerita-rakyat-legenda/

Di sebuah sudut pedesaan Jombang, Jawa Timur, terdapat sebuah tempat yang hingga kini dikenal dengan nama Sumber Peking. Nama itu lahir dari sebuah cerita rakyat lama yang penuh dengan nuansa mistis sekaligus menyimpan pelajaran hidup.

Alkisah, di tengah perjalanan panjangnya, Surontanu singgah di sebuah kawasan yang dikelilingi oleh rumpun pring atau bambu. Rumpunnya begitu rimbun sehingga sinar matahari hanya menembus sedikit saja ke dalam. Suasana teduh itu membuat tempat tersebut tampak seperti dunia yang terpisah dari hiruk pikuk di luar.

Di tengah rimbun bambu itulah terdengar bunyi gemericik air. Mata air yang jernih mengalir deras, seolah memainkan alunan musik alam. Suaranya mirip dengan alat musik gamelan bernama peking, sehingga masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Sumber Peking. Airnya bening, segar, dan menjadi sumber kehidupan bagi siapa pun yang singgah.

Malam itu Surontanu memilih beristirahat di dekat sumber air. Ia bermalam di rumah seorang janda baik hati bernama Nyi Gulah yang tinggal tak jauh dari sana. Nyi Gulah menyambutnya dengan ramah, menyediakan tempat beristirahat setelah perjalanan panjang. Suasana malam menjadi hening, hanya ditemani suara bambu yang bergesekan ditiup angin, dan suara air yang tak pernah berhenti mengalir.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Kebo Kicak, tokoh sakti yang kerap berhadapan dengan Surontanu, datang mencari jejaknya. Pertarungan di antara mereka seakan terus mengejar ke mana pun Surontanu pergi. Tetapi ketika Kebo Kicak tiba di rumah Nyi Gulah pada fajar, Surontanu sudah pergi meninggalkan tempat itu. Ia berangkat menuju barat, menorehkan jejak baru dalam pengembaraannya.

Sumber Peking tetap tinggal, menjadi saksi bisu pertemuan singkat itu. Rumpun bambu tetap tumbuh subur, dan mata airnya terus mengalir tanpa henti. Hingga kini, masyarakat meyakini bahwa tempat itu adalah anugerah alam yang harus dijaga, karena menyediakan air bersih yang menjadi nadi kehidupan.

Bila menilik lebih dalam, cerita rakyat ini tidak hanya berkisah tentang tokoh sakti, melainkan juga menggambarkan betapa pentingnya pring dan sumber air bagi kehidupan sehari-hari. Pring atau bambu sudah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa Timur. Batangnya digunakan untuk membuat rumah, pagar, alat dapur, bahkan wadah untuk memasak nasi liwet atau sayur lodeh yang harum aromanya. Sementara daunnya kerap dipakai sebagai pembungkus makanan tradisional.

Adapun sumber air adalah inti dari kehidupan. Dari aliran bening itulah masyarakat memperoleh minum, mengairi sawah, dan menjaga kelestarian ternak serta tanaman pangan. Kehadiran air membuat desa-desa tumbuh subur, menjadikan bumi tetap hidup.

Legenda Sumber Peking dengan demikian menjadi simbol keterikatan manusia dengan alam. Rumpun bambu yang rimbun mengajarkan kesederhanaan dan kebermanfaatan, sementara gemericik sumber air mengingatkan bahwa kehidupan selalu berawal dari anugerah kecil yang terkadang kita anggap sepele. Seperti Nyi Gulah yang memberi tempat singgah bagi musafir, alam pun selalu memberi tanpa pamrih.

Kisah ini terus diceritakan dari generasi ke generasi. Tidak hanya sebagai dongeng pengantar malam, tetapi juga sebagai peneguh nilai bahwa menjaga bambu, merawat sumber air, dan menghargai pangan berarti menjaga keberlangsungan hidup bersama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.